Menelusuri Sejarah Penemuan Borobudur


Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Budha, sebagai situs Warisan Budaya Dunia yang telah diresmikan pada tahun 1991. Chandi Borobudur dan kawasannya memiliki makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa dari para wisatawan, untuk berwisata dan mengunjungi monumen ini lebih dekat.

Pemerintah telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah dan estetika tersendiri sebagai daya tarik wisata, serta menjadi destinasi wisata prioritas wisatawan domestik dan mancanegara. Menikmati wisata tematik Borobudur merupakan wujud apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur Chandi Borobudur.

Pamong Carita yang ramah akan menemani dan memandu Anda untuk memberikan penjelasan dan narasi tentang Borobudur dan sekitarnya. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang dikenakan ketika mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Chandi Borobudur.

Pembukaan kembali Borobudur menghadirkan kesempatan menarik untuk menjelajahi sumber-sumber naratif guna memahami dan mempelajari bangunan ini dengan lebih baik. Kesempatan menarik ini mengeksplorasi narasi sejarah periode Jawa Kuno dan keberadaan awal Borobudur. Menjelajahi Borobudur menawarkan kesempatan untuk mempelajari sejarah Candi Borobudur, yang pernah ditinggalkan oleh umat Budha.

Candi Borobudur
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Terletak Borobudur

Candi Budha ini terletak di Borobudur, bagian dari Kabupaten Magelang dan di Provinsi Jawa Tengah. Perjalanan menuju lokasi Candi Borobudur kurang lebih berjarak 96 kilometer dari kota Semarang, 86 kilometer dari kota Surakarta, dan sekitar 40 kilometer dari kota Yogyakarta. Keberadaannya menjadi bukti sejarah penting bagi perkembangan agama Budha di Indonesia. Keindahannya tidak hanya dikenal di seluruh nusantara tetapi juga di dunia internasional.

Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Budha ini terletak di atas sebuah bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara adalah bukit Tidar, dan di selatan adalah pegunungan Menoreh, dan terletak di dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo di sebelah timur.

Borobudur sebagai bangunan suci merupakan candi Budha terbesar di dunia yang ada di Indonesia. Banyak ahli sejarah yang mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya Jawa kuno dan awal mula dibangunnya Borobudur, khususnya pada masa Hindu dan Budha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan beragama dan menjadi latar belakang keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Pulau Jawa pada masa itu.

Terletak Borobudur atau Barabudur, namanya berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau pura umat Buddha, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali, kata 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Kemudian arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Budha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa kejayaan pemerintahan Dinasti Sailendra. Bangunan yang megah ini dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, yang menggabungkan budaya asli Indonesia yaitu pemujaan leluhur dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana.

Candi Budha Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan tertinggi sesuai dengan ajaran Budha.

Para peziarah, masuk melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Sejarah Chandi Borobudur

Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan Chandi Borobudur sebagai bangunan suci umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi adalah nirwana.

Akan tetapi tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Chandi Borobudur dan apa kegunaannya. Diperkirakan dibangun sekitar tahun 800 masehi. Berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9.

Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pendirian Chandi Borobudur menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 M.

Meskipun terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai raja yang berkuasa di Jawa beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, melalui temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itu dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.

Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km (6.2 mi) sebelah timur dari Borobudur. Candi Budha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan tahun 850 M.

Pembangunan candi Buddha—termasuk Borobudur—saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaandan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.

Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan rajapenganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu — wangsa Syailendra yang menganut Budha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa —kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.

Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara pada prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9.

Menurut sejarah, Chandi Borobudur ditinggalkan pada sekitar abad ke-14, dan ditemukan kembali pertama kali oleh Sir Thomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa.

Borobudur Ditinggalkan

Bayangkan pertanyaannya, adakah informasi untuk mengetahui alasan masyarakat meninggalkan Candi Borobudur dan bangunan tersebut tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah. Namun dalam hal ini bangunan tersebut sudah tidak aktif lagi dan belum diketahui secara pasti sudah berapa lama bangunan tersebut tidak aktif sebagai tempat suci umat Buddha.

Tidak diketahui kapan Borobudur Chandi ditinggalkan dan terkubur di sebuah bukit dan tertutup abu vulkanik mulai sekitar tahun 929-1006 M, pada masa pemerintahan Rakai Sumba Dyah Wawa, akibat aktivitas letusan dan gempa dari beberapa gunung berapi, dan hal ini diperkirakan menjadi penyebabnya saat itu. Pusat pemerintahan kerajaan berpindah ke Jawa Timur.

Ketika Candi Borobudur ditinggalkan dan tidak digunakan lagi, banyak yang menjelaskan bahwa hal ini ada kaitannya dengan berpindahnya kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh beberapa rangkaian letusan gunung berapi.

Menurut Soekmono, ia menjelaskan pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi, masyarakat Mataram yang beragama Hindu mengalami berbagai kesulitan. Kekuasaan Sanjaya dan Syailendra di Jawa Tengah membangun bangunan suci keagamaan yang besar dan megah, namun melemahkan tenaga dan pendapatan rakyat, karena mengutamakan kebesaran raja telah menekan hajat hidup rakyat.

Perpindahan pusat kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur mengakibatkan bangunan pemujaan seperti Chandi Borobudur tidak lagi digunakan karena ditinggalkan oleh penganut agama Budha. Keberadaan Borobudur hilang dan tidak tercatat dalam sejarah selama hampir 800 tahun hingga akhirnya ditemukan kembali.

Chandi Borobudur terbengkalai dan terkubur di bawah lapisan tanah dan abu vulkanik, sehingga saat itu benar - benar berada di dalam bukit. Alasan sebenarnya ditinggalkannya masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat keagamaan umat Budha.

Menurut penuturan sejarah Jawa kuno, pada kurun waktu antara tahun 928 hingga tahun 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Medang ke wilayah Jawa Timur setelah beberapa kali terjadi letusan gunung berapi, namun beberapa sumber menduga kemungkinan besar Borobudur mulai ditinggalkan selama periode ini.

Sebuah langkah maju dari anggapan umum adalah Chandi Borobudur, yang tidak lagi digunakan karena masyarakat telah berpindah latar belakang ke Islam pada abad ke-15. Namun tidak menutup kemungkinan sebagian besar bangunan suci di Jawa Tengah telah ditinggalkan sejak abad ke-10 ketika kerajaan di Jawa Tengah memindahkan wilayahnya ke Jawa Timur.

Penjelasan tersebut dikemukakan para arkeolog tentang monumen Chandi Borobudur peninggalan umat Buddha, dan tentang bangunan suci yang terkubur di atas bukit. Hal ini terkait dengan sejarah ketika pusat kerajaan dari Jawa Tengah berpindah ke Jawa Timur. Mengenai letak Kerajaan Mataram di Jawa Tengah, hal ini dimungkinkan karena terletak di tengah-tengah pegunungan vulkanik seperti Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Gunung Merapi masih aktif dan aktivitas vulkanik berdampak serius. Letusan gunung berapi, kegiatan ini menimbulkan dampak serius yang mempengaruhi kehidupan masyarakat pada saat itu.

Sejarah menyebutkan dampak letusan terjadi di situs Liangan. Situs Liangan merupakan situs pemukiman pada masa Mataram Kuno. Situs Liangan sudah tidak berpenghuni lagi, kawasan tersebut terbengkalai akibat letusan gunung berapi. Bukan dari Gunung Merapi yang masih aktif, namun akibat letusan yang terjadi, situs Liangan telah tertimbun material abu vulkanik letusan Gunung Sindoro. Selama penelitian dan penggalian, situs ini ditemukan pada tahun 2008, terkubur abu vulkanik setebal 9 meter.

Bangunan-bangunan tersebut dibiarkan begitu saja selama beberapa abad, terlepas dari kapan tepatnya bangunan tersebut kehilangan maknanya dalam masyarakat, bagaimanapun juga bangunan tersebut harus ditemukan kembali, namun bangunan tersebut tidak pernah sepenuhnya hilang dari ingatan orang. Karena masyarakat berbicara tentang kepercayaan tradisional takhayul, maka reruntuhan bangunan dikaitkan dengan nasib buruk dan kesengsaraan.

Penemuan Chandi Borobudur
Borobudur terbengkalai selama kurang lebih 800 tahun dan tertimbun lapisan tanah dan abu vulkanik, sehingga saat itu Borobudur berada di dalam bukit. Alasan sebenarnya bangunan ini terlantar dan ditinggalkan masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan ini tidak lagi menjadi pusat keagamaan penganut agama Budha.

Menurut narasi sejarah Jawa kuno, dalam kurun waktu antara tahun 928 hingga 1006, Raja Mpu Sindok telah memindahkan pusat kerajaan Medang ke wilayah Jawa Timur setelah terjadi beberapa kali letusan gunung berapi, meski demikian beberapa sumber menduga bahwa kemungkinan besar Borobudur mulai ditinggalkan pada masa ini.

Borobudur mulai disebut-sebut sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Nagarakretagama, yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yang menyebutkan adanya "Candi di Budur". Selain itu, Soekmono (1976) juga mengatakan bahwa candi ini benar-benar ditinggalkan sejak penduduk setempat masuk Islam pada abad ke-15.

Candi Borobudur melalui cerita rakyat sebagai bukti kejayaan masa lalu telah menjadi kisah takhayul yang dikaitkan dengan kemalangan dan penderitaan. Dua kitab Babad Jawa yang ditulis pada abad ke-18 menyebutkan kesialan terkait bangunan Borobudur. Menurut Babad Tanah Jawi menjelaskan nasib buruk pada tahun 1709, tentang mengunjungi Borobudur. Dalam Babad Mataram, musibah berada di candi ini pada tahun 1757, menyebutkan arca Budha yang terdapat di dalam stupa berterawang.

Sejarah menyebutkan adanya seorang penjelajah di Pulau Jawa, pada kurun waktu antara tahun 1811 hingga 1816. Menyebutkan nama Thomas Stamford Raffles yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal, dan mempunyai ketertarikan khusus terhadap sejarah Jawa. Ia mengoleksi artefak antik seni Jawa kuno dan membuat catatan tentang sejarah dan budaya Jawa yang ia kumpulkan dari pertemuannya dengan masyarakat lokal dalam perjalanannya keliling Jawa.

Pada kunjungan inspeksinya ke Semarang pada tahun 1814, ia diberitahu adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena ketidakhadiran dan tugasnya, dia tidak bisa pergi sendiri untuk mencari bangunan tersebut dan mengirim H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, menyelidiki keberadaan bangunan besar ini.

Dalam waktu dua bulan, Cornelius dan masyarakat sekitar mulai membuka bangunan dengan menebang pohon dan semak yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman tanah longsor, dia tidak bisa menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan temuannya kepada Raffles, termasuk menyerahkan berbagai sketsa candi Borobudur. Raffles berjasa menemukan kembali monumen yang pernah hilang itu.

Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Karesidenan Kedu, melanjutkan pekerjaan Cornelius dan pada tahun 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah digali dan terlihat. Ketertarikannya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi dibandingkan tugas pekerjaannya. Hartmann tidak menulis laporan mengenai aktivitasnya; khususnya, beredar rumor bahwa ia telah menemukan patung Budha besar di stupa utama.

Pada tahun 1842, Hartmann pernah menyelidiki stupa induk meskipun apa yang ditemukannya masih menjadi misteri karena bagian dalam stupa tersebut kosong. Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur Belanda di bidang teknik, mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. JFG Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih detail terhadap monumen tersebut, yang diselesaikannya pada tahun 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund disertai sketsa Wilsen, namun Brumund menolak bekerja sama.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, untuk menyusun monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada tahun 1873, monografi pertama dan kajian lebih rinci tentang Borobudur diterbitkan, disusul edisi terjemahan dalam bahasa Prancis setahun kemudian. Foto pertama monumen ini diambil pada tahun 1873 oleh engrafer Belanda Isidore van Kinsbergen.

Apresiasi terhadap situs ini tumbuh perlahan. Borobudur sudah cukup lama menjadi sumber cenderamata, bagian kepala patung Budha menjadi bagian yang paling banyak hilang. Itu sebabnya kini banyak ditemukan patung Budha tanpa kepala di Borobudur.Pada tahun 1882, kepala pemeriksa artefak budaya merekomendasikan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum karena kondisi yang tidak stabil, dan pencurian yang banyak terjadi di bangunan ini. Sehingga, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap situs tersebut dan mempertimbangkan kondisi sebenarnya dari kompleks tersebut; Laporan tersebut menyatakan kekhawatiran tersebut berlebihan dan menyarankan agar bangunan tersebut dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.

Pada tahun 1882 muncul usulan untuk membongkar seluruh bangunan candi dan memindahkan relief-relief tersebut ke museum mengingat kondisi candi sudah terlalu rusak dan sangat memprihatinkan. Usulan ini tidak langsung mendapat tanggapan, namun memunculkan pemikiran mengenai upaya penyelamatan candi dari bahaya runtuh atau hancur.

Penemuan lain yang sangat penting terjadi pada tahun 1885, ketika J.W. Ijzerman melakukan penyelidikan dan melakukan penggalian mengenai keberadaan candi tersebut. Dalam penyelidikannya, IJzerman menemukan relief di belakang kaki candi pada keempat sisi candi yang sering disebut Kaki Tersembunyi. Kaki candi ini dibongkar sebagian demi keperluan fotografi lalu ditutup kembali. Relief yang berada di belakang kaki candi ini sebagian tidak ditutupi atau dipajang sebagian di sudut tenggara sepanjang dua panel yang menghadap ke selatan.

Pada tahun 1900 dibentuk panitia yang mempunyai tugas khusus untuk melaksanakan perencanaan penyelamatan Chandi Borobudur. Setelah dua tahun pengerjaan, disimpulkan perlunya penyelamatan Chandi Borobudur. Pada tahun 1905, pemerintah Belanda menyetujui pemugaran Chandi Borobudur yang dipimpin oleh Van Erp. Pemugaran dilakukan pada tahun 1907 – 1911.

Sekilas Upaya Rehabilitasi

Menyikapi upaya rehabilitasi UNESCO mengidentifikasi terdapat tiga pokok permasalahan penting dalam upaya pelestarian Borobudur, yaitu vandalisme atau pengrusakan oleh pengunjung, erosi tanah di bagian tenggara situs, dan analisis dalam pengembalian bagian-bagian yang hilang.

Tanah yang gembur, beberapa kali gempa bumi, dan hujan lebat dapat menggoyahkan struktur bangunan ini. Gempa bumi adalah faktor yang paling parah, karena tidak saja batuan dapat jatuh dan pelengkung ambruk, tanah sendiri bergerak bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan. 

Meningkatnya popularitas stupa menarik banyak pengunjung yang kebanyakan adalah warga Indonesia. Meskipun terdapat banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga, vandalisme berupa pengrusakan dan pencorat-coretan relief dan arca sering terjadi, hal ini jelas akan merusak situs ini. 

Pada 27 Mei 2006, telah terjadi gempa berkekuatan 6,2 skala mengguncang pesisir selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini menghancurkan kawasan dengan korban terbanyak di Yogyakarta, akan tetapi tidak banyak yang berpengaruh Borobudur tetap utuh. 

Pada 28 Agustus 2006 simposium bertajuk Trail of Civilizations (jejak peradaban) digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, juga hadir perwakilan UNESCO dan negara - negara mayoritas Buddha di Asia Tenggara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja.

Borobudur sangat terdampak letusan Gunung Merapi pada Oktober dan November 2010. Debu vulkanik dari Merapi menutupi kompleks candi yang berjarak 28 kilometer arah barat-barat daya dari kawah Merapi. Lapisan debu vulkanik mencapai ketebalan sekitar 2,5 sentimeter menutupi bangunan candi pada letusan 3 – 5 November 2010, debu vulkanik juga mematikan tanaman di sekitar, dan para ahli mengkhawatirkan debu vulkanik yang secara kimia bersifat asam dapat merusak batuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup 5 sampai 9 November 2010 untuk membersihkan lapisan debu.

Mencermati upaya rehabilitasi Chandi Borobudur setelah letusan Merapi 2010, melakukan serangkaian kegiatan pada upaya rehabilitasi. Membersihkan candi dari endapan debu vulkanik akan menghabiskan waktu sedikitnya 6 bulan, disusul penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. 

Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem tata air dan drainase yang tersumbat adonan debu vulkanik bercampur air hujan. Restorasi berakhir November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.

Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Selamat Datang di Borobudur
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Dalam narasi sejarah Borobudur disebutkan salah satu ukiran panil relif dari 160 panil yang terpahat pada dinding kaki candi tersembunyi dalam teks Karmawibhangga panil 150, tentang persembahan alas kaki yang disebut dengan nama 'Upanat', alas kaki khusus yang diberikan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan.

Relief Upanat (alas kaki) Borobudur.
Relif Karmawibhangga dinding kaki candi, tentang persembahan alas kaki 'Upanat', alas kaki kepada Brahmana. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Memperkenalkan 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan dalam kunjungan menaiki teras-teras melalui lorong-lorong dengan galeri panil relief menuju bagian atas yang berbentuk lingkaran dengan deretan stupa pada bangunan Candi Borobudur.

Chandi Borobudur
Situs Warisan Budaya Dunia tahun 1991, salah satu pemandangan Borobudur dari barat laut. Chandi Borobudur merupakan candi Budha Mahayana, dibangun abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, diatasnya terdapat stupa terbesar, dikelilingi oleh 72 stupa, dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Kesempatan menyenangkan kali ini kami mengupas beberapa sumber narasi dalam wisata tematik Borobudur dengan topik pembahasan mengenai Candi Borobudur dalam beberapa judul dalam blog ini.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Borobudur
Chandi Borobudur is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.



Sejarah menyebutkan bahwa Chandi Borobudur terletak tepat di atas sebuah bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Melihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang terletak di sebelah timur.

Dalam penuturan sejarah Borobudur disebutkan bahwa salah satu dari 160 panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi tersembunyi dalam teks Karmawibhangga, menyebutkan mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat', alas kaki khusus yang diberikan kepada para Brahmana, untuk memperoleh pahala dan kesejahteraan yang bermakna dalam kehidupan.

Wisata dan kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Candi Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, yang merupakan bentuk apresiasi belajar dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur Indonesia. 

Gambar Candi Borobudur

Relief Cerita dinding kaki candi Borobudur

Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding Kaki Candi Tersembunyi Borobudur sudut tenggara (Hidden Foot). Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Dinding lorong relief cerita Borobudur

Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Dinding galeri relief cerita Rupadhatu Borobudur

Keindahan seni ukir salah satu dinding relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Teras-teras lingkaran Arupadhatu

Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Pemandangan bukit Menoreh dan stupa Borobudur

Keindahan pemandangan bukit Menoreh dari teras-teras barisan stupa, adalah legenda Gunadharma tentang perbukitan Menoreh, cerita arsitek Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Struktur piramida berundak Borobudur

Desain Borobudur merupakan kebudayaan prasejarah megalitik dengan struktur piramida berundak yang terbuat dari batu yang disebut punden berundak. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur denah dasarnya berbentuk Mandala.

Borobudur Mandala, merupakan lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Pemandangan Candi Borobudur

Pemandangan bukit, terletak diatas bukit alami yang diratakan dan diubah menjadi dataran tinggi yang menjadi lokasi biara. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Dataran tinggi Borobudur beberapa meter lebih tinggi dari dataran di sekitarnya, puncak bukitnya menjulang paling tinggi di atas dataran tinggi tersebut. Letaknya di atas bukit yang dibangun. Ketinggian puncak bukit tidak cukup untuk membentuk inti struktur. Teknik bangunan yang digunakan dalam pembangunan candi Borobudur di atas batu. Materialnya tidak dikumpulkan dari tambang, melainkan diambil dari sungai tetangga. Batu-batu tersebut dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, diangkut ke lokasi, dan ditempatkan tanpa mortar.

Lorong dinding relief cerita Borobudur

Salah satu lorong koridor dan galeri dinding berukir relief cerita Borobudur, dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Struktur bangunan dapat dibagi menjadi tiga bagian: alas (kaki), badan, dan atas. Basisnya berukuran 123×123 m, dengan tinggi 4 meter. Tubuh candi terdiri atas lima teras berbentuk bujur sangkar yang semakin mengecil di bagian atasnya. Teras pertama terletak 7 meter dari ujung dasar teras. Setiap teras berikutnya dibuat mundur 2 meter, menyisakan lorong sempit di setiap tingkat.

Struktur tiga bagian Borobudur

Struktur tiga bagian menjelaskan bagian dasar (kaki), tubuh, dan puncak candi Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Gapura Kala-Makara Borobudur

Salah satu Tangga Borobudur yang mendaki melalui gapura berbentuk ukiran Kala-Makara Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Stupa-stupa teras Arupadhatu Borobudur

Pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Sistem interlock (saling kunci)

Salah satu pemasangan batu dengan bentuk saling kunci yaitu menempel tanpa perekat dengan bentuk "ekor merpati" blok batu Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Borobudur Stupa

Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.

Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.

Teras stupa Borobudur

Salah satu teras Borobudur dengan deretan stupa dan pemandangan bukit Menoreh disebelah selatan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Legenda Gunadharma cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Pemandangan Borobudur dari bukit Dagi

Keindahan pemandangan Borobudur dari Bukit Dagi. Borobudur merupakan candi Budha yang dibangun di atas bukit pada masa pemerintahan Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi. Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Budha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari enam teras bujur sangkar, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. foto di arisguide.
Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.


Comments

Popular Posts