Sekilas Candi Borobudur
Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata terkesima dengan kemegahan dan keindahan monumen ini. Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa dari para wisatawan, untuk berwisata dan mengunjungi bangunan ini lebih dekat.
Pemerintah telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah dan estetika tersendiri sebagai daya tarik wisata, serta menjadi destinasi wisata prioritas bagi wisatawan nusantara dan juga mancanegara. Menikmati wisata tematik Borobudur merupakan wujud apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur Chandi Borobudur.
Pamong Carita yang ramah akan menemani dan memandu Anda untuk memberikan penjelasan dan narasi tentang Borobudur dan sekitarnya. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang dikenakan ketika mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Candi Borobudur.
Menelusuri narasi sejarah masa Jawa Kuno dan awal keberadaan Candi Borobudur. Mencari literatur mengenai keberadaan lingkungan sekitar candi ini. Pada kesempatan menyenangkan ini mengeksplorasi budaya leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus belajar tentang kompleks Chandi Borobudur dan tiga candi Budha (Pawon, Mendut dan Ngawen).
Berada di Borobudur
Senang sekali dengan kunjungan wisatawan ke Borobudur, dan kini kita akan melangkah, mengunjungi dan mengagumi kemegahan dan keindahan salah satu situs warisan budaya dunia. Dibukanya kembali Borobudur menjadi kesempatan menarik untuk menggali beberapa sumber narasi dalam materi panduan wisata di Candi Borobudur.
Candi Budha ini terletak di Borobudur, bagian dari Kabupaten Magelang dan di Provinsi Jawa Tengah. Perjalanan menuju lokasi Candi Borobudur kurang lebih berjarak 96 kilometer dari kota Semarang, 86 kilometer dari kota Surakarta, dan sekitar 40 kilometer dari kota Yogyakarta.
Wisata dan kunjungan yang ada saat ini bertujuan untuk mengenal, mengagumi, mempelajari sejarah, mengikuti wisata tematik yang merupakan bentuk apresiasi pembelajaran, serta ikut menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.
Pada kesempatan yang menyenangkan ini menelusuri beberapa sumber narasi dalam Wisata Tematik Borobudur yang dijelaskan oleh pemandu wisata sejarah Candi Borobudur. Kesempatan mengetahui sekilas sejarah Candi Borobudur yang pernah ditinggalkan umat Buddha.
Sekilas Candi Borobudur
Sangat senang dengan kunjungan wisata di Borobudur, dan saat ini akan melangkah, mengunjungi dan mengagumi kemegahan serta keindahan salah satu situs warisan budaya dunia. Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
Borobudur atau disebut dengan nama Barabudur, adalah candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.
Borobudur adalah candi Buddha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.
Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa kejayaan pemerintahan Dinasti Sailendra. Bangunan yang megah ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang menggabungkan budaya asli Indonesia yaitu pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana.
Candi Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan tertinggi sesuai dengan ajaran Buddha.
Para peziarah, masuk melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut sejarah, Chandi Borobudur ditinggalkan pada sekitar abad ke-14, dan ditemukan kembali pertama kali oleh Sir Thomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa.
Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan Chandi Borobudur sebagai bangunan suci umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi adalah nirwana.
Sekitar Borobudur
Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di atas sebuah bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara adalah bukit Tidar, dan di selatan adalah pegunungan Menoreh, dan terletak di dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo di sebelah timur.
Terletak Borobudur atau Barabudur, namanya berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau pura umat Buddha, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali. kata 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Kemudian arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.
Menurut legenda Jawa, disebutkan bahwa daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan dan keelokan alamnya serta kesuburan tanahnya.
![]() |
| Pemandangan Candi Borobudur dari Bukit Dagi dengan pagar Pegunungan Menoreh. sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Menurut cerita, dulu dikatakan bahwa Pulau Jawa terapung, melambai, dan terhuyung-huyung di lautan, harus dipaku ke pusat bumi sebelum bisa dihuni. Kisah paku besar menjadi sebuah bukit bernama Tidar yang terletak di pinggiran selatan kota Magelang sekarang ini. Monumen luar biasa Chandi Borobudur dibangun.
Menghadap hanya sekitar lima belas kilometer di sebelah selatan bukit Tidar, terletak Candi Borobudur. Daerah di sekitar 'Paku Jawa', yang lebih dikenal dengan 'Dataran Kedu', merupakan pusat geografis pulau ini. Kesuburan tanah yang ekstrim, penduduk yang sangat ramah dan rajin, telah menjelaskan mengapa kawasan ini sering disebut 'Taman Jawa'.
Chandi Borobudur tidak memiliki ruangan didalamnya, serta tidak ada tempat dimana umat Budha dapat beribadah. Kemungkinan besar bahwa bangunan itu adalah tempat ziarah, di mana umat Buddha dapat mencari suatu kebijaksanaan yang tertinggi untuk mendapatkan pencerahan. Pada lorong-lorong di sekitar bangunan, yang berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk mengelilingi ritual.
Dipandu oleh deretan relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras ke teras lain dalam kontemplasi hening. Chandi Mendut, disisi lain, tampaknya menjadi tempat untuk pemujaan. Chandi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruangan di dalamnya, akan tetapi bangunan ini tidak mengungkapkan tentang dewa apa yang mungkin menjadi objek untuk pemujaan.
Berasumsi bahwa peziarah harus melewati Chandi Pawon dalam perjalanan prosesi dari Chandi Mendut menuju Chandi Borobudur disepanjang jalur prosesi, terdapat jalan beralas batu yang mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam pusat dalam suatu perjalanan panjang. Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah yang utama di Chandi Mendut, dan Chandi Pawon merupakan tempat untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum pada akhirnya melanjutkan perjalanan ziarah ke Chandi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
| Ilustrasi Danau Borobudur, genangan air disebelah barat laut. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. |
Danau Borobudur
Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m diatas permukaan laut dan 15 m di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20, dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia mengemukakan bahwa Chandi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk dan denah monumen menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit, sehingga menunjukkan bentuk teratai mengambang di udara.
Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. Seringkali digenggam oleh Bodhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa.
Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda namun terangkai dalam menggambarkan jalan menuju kebuddhaan, pencerahan, dan pembebasan samsara.
![]() |
Arsitektur Borobudur menyerupai bunga teratai. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana, yaitu aliran Buddha yang menyebar ke Asia Timur. Tiga pelataran melingkar yang ada di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai.
Dalam hal ini teori Nieuwenkamp terdengar begitu luar biasa dan fantastis, tetapi banyak menuai bantahan dari para arkeolog. Pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa daerah kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau kuno.
Sementara itu pakar geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp.
Sekilas Chandi Borobudur
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Dalam narasi sejarah Borobudur disebutkan salah satu ukiran panil relif dari 160 panil yang terpahat pada dinding kaki candi tersembunyi dalam teks Karmawibhangga panil 150, tentang persembahan alas kaki yang disebut dengan nama 'Upanat', alas kaki khusus yang diberikan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan.
Relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga panil 150, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan.
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Memperkenalkan 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan dalam kunjungan menaiki teras-teras melalui lorong-lorong dengan galeri panil relief menuju bagian atas yang berbentuk lingkaran dengan deretan stupa pada Candi Borobudur. Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan untuk lebih mengenal Candi Borobudur belajar mengetahui sejarah, berwisata tematik dan mengagumi kemegahan serta keindahan arsitektur Borobudur, yang merupakan salah satu wujud apresiasi dalam pembelajaran dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia yang berada di Borobudur Indonesia.
Pada kesempatan yang menyenangkan ini menjelajahi narasi Borobudur mengetahui sejarah tentang ditemukannya kembali Candi Borobudur.
Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
Chandi Borobudur
Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
Melangkah kesejarah keberadaan Chandi Borobudur, bangunan yang pernah ditinggalkan dan tertimbun debu vulkanik mulai kurun waktu sekitar tahun 929-1006 Masehi, pada masa pemerintahan Rakai Sumba, hal ini dikarenakan beberapa aktifitas erupsi dan bencana alam gempa dari beberapa gunung berapi. Borobudur diperkirakan telah tertimbun abu vulkanik sehingga dilupakan dan menyebabkan pusat pemerintahan kerajaan pada waktu itu berpindah ke Jawa Timur.
Sejarah menyebutkan kapan Candi Borobudur ditinggalkan dan tidak lagi digunakan oleh para penganut agama Buddha, tidak dapat diketahui secara pasti, namun penjelasan tentang hal ini lebih banyak dihubungkan dengan perpindahan kerajaan Mataram Kuna yang berkuasa pada saat itu ke Jawa Timur.
Soekmono menjelaskan pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi, rakyat Mataram Hindu mengalami berbagai kesulitan. Kekuasaan Sanjaya dan Syailendra di Jawa Tengah membangun bangunan suci keagamaan yang besar, dan megah, akan tetapi melemahkan tenaga dan penghasilan rakyat, karena mengutamakan kebesaran raja telah menekan kehidupan rakyat. Pindahnya pusat kerajaan Mataram Kuna dari Jawa Tengah ke Jawa Timur berakibat bangunan pemujaan seperti Candi Borobudur tidak digunakan lagi karena ditinggalkan penganutnya. Keberadaan Candi Borobudur menghilang tidak tercatat dalam sejarah selama hampir 800 tahun sampai akhirnya ditemukan kembali.
PENEMUAN BOROBUDUR
Selama beberapa abad Chandi Borobudur tertinggal, dari dulu hingga tahun 1814 ketika ia menemukan kembali Borobudur untuk pertama kalinya, Sir Thomas Stamford Raffles, seorang perwakilan Inggris datang untuk menyelidiki selama inspeksi besarnya di Jawa.
Pada saat berada di Semarang, masyarakat desa Bumisegoro menginformasikan adanya sebuah monumen, dan tempat tinggal yang disebut Borobudur. Dia sibuk, dan pengembaraannya tidak bisa dihabiskan dan akhirnya mengirim Cornelius, seorang perwira teknik Belanda. Berbekal pengalamannya menjelajahi benda-benda purbakala di Jawa, perjalanan itu membawanya ke sebuah penyelidikan. Cornelius punya ide untuk mempekerjakan sekitar 200 penduduk desa untuk menebang pohon, membakar semak-semak, dan menggali tanah dan sampah tempat monumen itu terkubur. Dalam waktu dua bulan dia telah menyelesaikan pekerjaannya, tetapi banyak galeri tidak dapat digali ke tanah, karena bahaya keruntuhan. Dia melengkapi laporannya dengan berbagai gambar di bagian akhir.
Bangunan suci Borobudur
mulai disebutkan sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam bukunya
Nagarakretagama, ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yang menyebutkan adanya
"Wihara di Budur". Selain itu Soekmono (1976) juga mengatakan
bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15. Candi Borobudur, melalui dongeng rakyat sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang bersifat tahayul, berhubungan dengan kemalangan dan penderitaan.
Dua buku Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk, tentang bangunan Borobudur. Menurut Babad Tanah Jawi, menjelaskan nasib buruk mengunjungi Borobudur pada tahun 1709. Dalam Babad Mataram, kemalangan berada dan mengunjungi candi yaitu melihat arca buddha di dalam stupa berlubang, pada tahun 1757.
Pada kurun 1811 hingga
1816, Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan memiliki
minat tentang sejarah Jawa dan benda-benda antik kesenian Jawa kuno,
serta membuat catatan mengenai sejarah kebudayaan Jawa. Dalam kunjungan
inspeksinya di Semarang tahun 1814, diberitahukan tentang bangunan besar di
dekat desa Bumisegoro.
Kemudian karena berhalangan, memerintahkan H.C.
Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan ini.
Dalam dua bulan, Cornelius dan 200 orang melakukan pembersihan bangunan
Borobudur dari semak belukar dan lapisan tanah. Karena ancaman longsor,
pekerjaan tersebut tidak dapat dilanjutkan, kemudian apa yang dilakukan dalam
pekerjaan itu dilaporkan kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar
sketsa candi Borobudur. Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali bangunan
yang pernah hilang.
Hartmann, seorang
pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja
Cornelius pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah
terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi. Hartmann
tidak menulis laporan atas kegiatannya, sehingga beredar kabar bahwa menemukan
arca buddha di stupa utama. Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama
meskipun apa yang ditemukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam
stupa kosong.
Pemerintah Belanda
memberi tugas kepada F.C. Wilsen, seorang insinyur bidang teknik, untuk
mempelajari Borobudur dan menggambar sketsa relief. J.F.G. Brumund juga
ditunjuk untuk melakukan penelitian atas bangunan ini, yang selesai pada tahun
1859. Pemerintah menerbitkan artikel tentang penelitian Brumund, dan dilengkapi
sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja
sama. Pemerintah Belanda kemudian menugaskan C. Leemans, yang
mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873,
monograf pertama Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam
bahasa Perancis setahun kemudian.
Foto pertama monumen ini
diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen. Untuk
waktu cukup lama Borobudur menjadi sumber cenderamata bagi sebagian besar kolektor pemburu
artefak terutama kepala arca Buddha banyak hilang. Kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Pada 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan
Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum karena
kondisi yang tidak stabil dan pencurian yang marak di bangunan candi.
Kemudian, pemerintah menunjuk Groenveldt,
seorang arkeolog, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh tentang kondisi
aktual kompleks ini, dan laporannya agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak
dibongkar untuk dipindahkan.
Catatan
Asal nama Borobudur
Bangunan kuno yang berasal dari periode Jawa kuno dalam sejarah Indonesia, cerita biasanya disebut chandi. Pada awalnya mereka tidak hanya menyebut nama yang meliputi bangunan candi, melainkan struktur bangunan dan hal lainnya seperti bentuk gapura dan pintu gerbang serta tempat pemandian.
Dalam penjelasan kebanyakan candi di Jawa, pada dasarnya nama aslinya tidak diketahui secara luas. Umumnya sebagian besar masyarakat yang tinggal di desa terdekat tidak yakin atau bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka sama sekali. Dari beberapa penelitian disebutkan bahwa banyak peninggalan budaya yang telah ditemukan kembali, kemungkinan bangunan suci atau candi hanya disebutkan oleh orang-orang dari desa terdekat.
Namun, beberapa dari mereka menjelaskan bahwa mereka tetap mempertahankan nama mereka, selama ini desa tersebut diberi nama setelah ditemukannya candi tersebut. Mungkin diucapkan, tetapi sulit untuk mengetahui apakah nama Chandi Borobudur diceritakan dan berasal dari desa tempat bangunan itu berada.
Dalam sejarah Jawa kuno abad ke-18, dijelaskan ada sebuah bukit bernama Borobudur. Pada saat Sir Thomas Stamford Raffles, orang yang menemukan kuil tersebut, datang ke penelitiannya. Ia menceritakan pada tahun 1814, tentang keberadaan sebuah candi atau monumen bernama Borobudur di desa Bumisegoro, oleh penduduk setempat. Borobudur, sepertinya itulah nama asli monumen tersebut. Tetapi tidak ada dokumen tertulis yang ditemukan tentang namanya.
Sebuah manuskrip Jawa kuno berangka tahun 1365 M, Nagarakrtagama yang disusun oleh Mpu Prapanca, menyebutkan kata 'Budur' namanya sebagai tempat suci bagi sekte Buddha, Vajradhara. Bukan tidak mungkin nama 'Budur' dikaitkan dengan Borobudur, namun karena tidak ada informasi lebih lanjut, hingga saat ini identifikasi yang pasti sulit dilakukan. Desa terdekat selalu berbicara 'Bore', kemungkinan menjadi bagian pertama dari nama asli monumen itu.
Padahal, banyak sarjana penjelasan De Casparis belum ada lagi solusi yang dikemukakan. Moens berpendapat bahwa, dalam analogi Bharasiwa India Selatan yang menunjukkan penganut Dewa Hindu Siva, monumennya dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dengan 'Bharabuddha' dalam bahasa Tamil, kata 'ur' berarti 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'.
Namun demikian, kata majemuk 'Boro Budur' sulit untuk dijelaskan, namun sebaliknya sebagai makna 'Budur adalah tempat suci di desa Boro' akan berbeda penafsiran dengan aturan dalam bahasa Jawa, yang mensyaratkan bahwa kata Budur Boro bukannya Boro Budur. Raffles mendapat saran tentang kata 'Budur', mungkin sesuai dengan kata Jawa kuno 'Buda', sehingga Borobudur memiliki arti 'Boro kuno'. Dia juga memberikan hipotesa lain tentang Boro berarti 'besar', dan Budur adalah 'Buddha', itu hanya disebut 'Buddha Agung'.
Padahal, 'Boro' seharusnya berarti lebih 'terhormat', yang berasal dari kata Jawa Kuno 'Bhara', sebuah awalan hororific, jadi 'tempat suci Buddhis yang dihormati' akan lebih tepat. Kata 'Boro' mungkin juga merupakan kata Jawa Kuno 'Bhara' yang berarti 'banyak', sehingga menafsirkan 'Borobudur' sebagai tempat suci 'yang banyak Buddha' memiliki klaim yang sama.
Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Poerbatjaraka. Ia mengira bahwa kata 'boro' merupakan singkatan dari kata 'vihara', yang artinya 'biara'. Borobudur kemudian berarti 'Biara Budur'. Disebutkan tentang fondasi biara yang digali kemudian selama penggalian arkeologi dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952. Karena nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi yang diberikan oleh Poerbatjaraka mungkin benar. Anggapan seperti itu berarti vihara merupakan bangunan suci.
Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.
Nama borobudur berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur".
Kata “bara” berasal dari kata “vihara”, dalam bahasa Sanskerta berarti “candi”.
Kata “beduhur” artinya ialah "tinggi", dalam bahasa Bali yang berarti "di atas".
Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. Kemudian De Casparis mencoba menelusuri kedua kata tersebut kembali ke asal mulanya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Dia menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak lain adalah Borobudur kita, dan bahwa nama tersebut perubahan sekarang terjadi melalui penyederhanaan normal apa yang terjadi dalam bahasa lisan.
POPULER
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Teras stupa Borobudur Salah satu teras Borobudur dengan deretan stupa dan pemandangan bukit Menoreh disebelah selatan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
|






Comments
Post a Comment