Melihat Desain Rancang Bangun Borobudur


Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata terkesima dengan kemegahan dan keindahan monumen ini. Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa dari para wisatawan, untuk berwisata dan mengunjungi monumen ini lebih dekat.

Pemerintah telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah dan estetika tersendiri sebagai daya tarik wisata, serta menjadi destinasi wisata prioritas wisatawan domestik dan mancanegara. Menikmati wisata tematik Borobudur merupakan wujud apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur Chandi Borobudur.

Pamong Carita yang ramah akan menemani dan memandu Anda untuk memberikan penjelasan dan narasi tentang Borobudur dan sekitarnya. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang dikenakan ketika mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Chandi Borobudur.

Menjelajahi narasi dan literatur sejarah Jawa kuno tentang keberadaan awal Chandi Borobudur merupakan kesempatan menarik untuk menjelajahi warisan budaya leluhur Indonesia. Wisata Borobudur bertujuan untuk lebih memahami struktur ini, mempelajari sejarahnya, dan mengagumi kemegahan serta keindahan arsitekturnya. Ini adalah cara untuk menghargai dan berpartisipasi dalam mengenali, melestarikan, dan melindungi situs warisan dunia ini. Dalam kesempatan yang menarik ini, kita akan meneliti beberapa sumber naratif tentang sejarah dan budaya Borobudur, dengan diskusi tentang desain dan konstruksi Chandi Borobudur.

Borobudur, piramida berundak
Chandi Borobudur terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Budha. Stupa utama terbesar terletak di tengah memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang, di dalamnya terdapat arca Budha duduk bersila dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma). Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Borobudur
Stupa utama terbesar terletak di tengah memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha yang duduk bersila dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma). Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Stupa Borobudur
Stupa pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan relik Buddha di Chandi Borobudur. Stupa, bangunan suci untuk memuliakan Budha sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan.

Stupa utama terbesar terletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha yang duduk bersila. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Berada di Borobudur
Senang sekali dengan kunjungan wisatawan ke Borobudur, dan kini kita akan melangkah, mengunjungi dan mengagumi kemegahan dan keindahan salah satu situs warisan budaya dunia. Dibukanya kembali Borobudur menjadi kesempatan menarik untuk menggali beberapa sumber narasi dalam materi panduan wisata di Chandi Borobudur.

Candi Budha ini terletak di Borobudur, bagian dari Kabupaten Magelang dan di Provinsi Jawa Tengah. Perjalanan menuju lokasi Candi Borobudur kurang lebih berjarak 96 kilometer dari kota Semarang, 86 kilometer dari kota Surakarta, dan sekitar 40 kilometer dari kota Yogyakarta.

Sejarah menyebutkan bahwa Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Melihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari bangunan ini terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang berada di sebelah timur.

Dalam penuturan sejarah Borobudur disebutkan bahwa salah satu dari 160 panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi tersembunyi dalam teks Karmawibhangga, menyebutkan mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat', alas kaki khusus yang diberikan kepada para Brahmana, dengan harapan untuk memperoleh pahala dan kesejahteraan yang bermakna dalam kehidupan.


Chandi Borobudur
Candi Budha terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar, diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.



Desain Struktur Borobudur

Chandi Borobudur, sesuai dengan namanya, Borobudur merupakan candi yang dibangun di atas bukit alami yang puncaknya diratakan dan dibentuk menjadi dataran tinggi. Bagian utama dataran tinggi menjadi lokasi monumen. Dataran tinggi di puncak bukit ini dibiarkan utuh. Dataran di lereng barat laut bukit menjadi tempat pembangunan vihara.

Chandi Borobudur memiliki desain yang berbeda dengan bangunan candi pada umumnya, bangunan ini tidak dibangun di atas tanah datar, dengan alas mendatar, dan di dalamnya terdapat ruang untuk penobatan arca. Borobudur merupakan bangunan piramida berundak, terdiri dari sembilan teras berjenjang, dan dimahkotai dengan stupa besar berbentuk lonceng.

Penggalian arkeologi di Borobudur pada masa rekonstruksi menunjukkan bahwa penganut agama Hindu atau kepercayaan pra-India sudah mulai membangun bangunan besar di bukit Chandi Borobudur sebelum situs tersebut diambil alih oleh umat Buddha. Pondasinya tidak seperti fondasi tempat suci Hindu atau Budha, dan oleh karena itu, struktur aslinya dianggap lebih asli Jawa daripada Hindu atau Budha.

Chandi Borobudur dibangun dalam bentuk stupa besar tunggal, jika dilihat dari atas berbentuk Mandala Buddha Tantra yang juga melambangkan kosmologi dan sifat batin Buddha. Desain Borobudur berbentuk piramida berundak. Pada masa lalu, kebudayaan megalitik prasejarah Austronesia yang berkembang di Indonesia dibangun dalam beberapa bentuk seperti gundukan tanah dan struktur piramida berundak yang terbuat dari batu yang disebut “punden berundak”.

Pondasi aslinya berbentuk persegi, dengan panjang sekitar 118 meter (387 kaki) di setiap sisinya. Bangunan ini mempunyai sembilan tingkat, enam tingkat terbawah berbentuk persegi dan tiga tingkat teratas berbentuk lingkaran. Teras atas mempunyai tujuh puluh dua stupa kecil yang mengelilingi stupa induk terbesar. Setiap stupa berbentuk lonceng dan bertautan dengan banyak lubang dekoratif. Patung Buddha berada di dalam pagar yang terbuka.

Ketiga bagian candi melambangkan tiga “alam” dalam kosmologi Budha, yaitu Kamadhatu (dunia nafsu), Rupadhatu (dunia wujud), dan terakhir Arupadhatu (dunia tanpa wujud). Makhluk hidup biasa menjalani kehidupannya pada tingkat paling rendah, alam nafsu. Mereka yang telah terbakar habis, melenyapkan segala keinginan untuk terus hidup meninggalkan dunia keinginan dan hidup di dunia hanya dalam alam bentuk: mereka melihat bentuk tetapi tidak tertarik padanya. Terakhir, para Buddha sepenuhnya melampaui bentuk dan mengalami realitas pada tingkat paling murni dan mendasar, yaitu samudra nirwana yang tak berbentuk.

Pembebasan dari siklus Samsara dimana jiwa yang tercerahkan tidak lagi melekat pada wujud duniawi sesuai dengan konsep Sunyata yaitu kekosongan total atau ketiadaan diri. Kamadhatu diwakili oleh alasnya, Rupadhatu dengan lima teras persegi (tubuh), dan Arupadhatu dengan tiga teras melingkar dan stupa puncak besar.

Ciri arsitektural antara ketiga tahapan tersebut mempunyai perbedaan metaforis. Misalnya saja dekorasi persegi bening pada Rupadhatu menghilang ke dalam teras-teras polos berbentuk lingkaran di Arupadhatu untuk merepresentasikan bagaimana dunia wujud dimana manusia masih melekat pada wujud dan nama, kemudian berubah menjadi dunia tanpa wujud. Tiga panggung, metafora yang berbeda, dekorasi persegi dan detail pada Rupadhatu menghilang ke dalam teras melingkar polos di Arupadhatu.

Desain Pembangunan Borobudur

Borobudur sangat berbeda dengan desain candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, melainkan di atas bukit alami. Teknik pembangunannya mirip dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang ibadah seperti candi lainnya.

Para arkeolog menduga desain awal Borobudur adalah sebuah stupa tunggal berukuran sangat besar yang memahkotai puncaknya. Diduga massa dan berat stupa raksasa yang sangat besar ini sangat berbahaya bagi tubuh dan kaki candi. Arsitek yang merancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan menggantinya dengan tiga baris stupa kecil dan satu stupa utama seperti yang ada sekarang.

Tahapan desain pembangunan Borobudur:

Tahap Pertama
Tidak diketahui secara pasti kapan Borobudur dibangun, diperkirakan sekitar tahun 750 M hingga 850 M.

Rancang bangun tahap pertama Candi Borobudur

Ilustrasi bentuk penampang rancang bangun awal Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Borobudur dibangun di atas bukit alami, puncak bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sebenarnya bangunan ini tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, pada bagian bukit tersebut tanahnya dipadatkan kemudian ditutup dengan struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah tersebut. Sisa bukit ditutupi dengan struktur batu lapis demi lapis.

Awalnya tata letak bertingkat dibangun. Tampaknya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Buktinya ada layout yang dibongkar. Tiga anak tangga pertama dibangun yang menutup struktur asli piramida berundak.

Tahap Kedua dan Ketiga
Penambahan dua anak tangga berbentuk bujur sangkar, satu langkan, dan satu anak tangga berbentuk lingkaran, yang di atasnya langsung dibangun stupa tunggal berukuran sangat besar.

Rancang bangun tahap kedua dan ketiga Candi Borobudur

Ilustrasi bentuk penampang rancang bangun tahap kedua dan ketiga Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Tahap Keempat
Terjadi perubahan desain, anak tangga atas berbentuk lingkaran dengan satu stupa induk besar dibongkar dan diganti dengan tiga anak tangga melingkar. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berjajar melingkar pada platform bertingkat ini dengan stupa induk besar di tengahnya. Entah kenapa pondasinya diperlebar, dibangunlah kaki tambahan yang menutup kaki asli dan menutupi relief Karmawibhangga.

Rancang bangun tahap keempat Candi Borobudur

Ilustrasi bentuk penampang rancang bangun tahap keempat Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Para arkeolog menduga Borobudur awalnya dirancang sebagai stupa tunggal berukuran sangat besar yang memahkotai teras persegi. Namun stupa besar ini terlalu berat sehingga menyebabkan struktur bangunan miring ke luar. Perlu diingat bahwa bagian inti Borobudur hanya berupa bukit-bukit tanah sehingga tekanan di bagian atas akan terdistribusi ke bagian luar bagian bawah sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal berukuran besar dan menggantinya dengan teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil saling bertautan dan hanya satu stupa induk.

Untuk menopang dinding candi agar tidak runtuh, maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki aslinya. Struktur ini merupakan penguat dan berfungsi seperti ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak roboh dan rontok, serta menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu.

Tahap Kelima
Terdapat perubahan kecil seperti perbaikan pada relief, penambahan langkan terluar, perubahan pada tangga dan lengkungan di atas pintu gapura, serta pelebaran bagian ujung kaki.

Rancang bangun tahap kelima Candi Borobudur

Ilustrasi bentuk penampang rancang bangun akhir Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Sepuluh halaman Borobudur menggambarkan filosofi aliran Mahayana sekaligus menggambarkan kosmologi, yaitu konsep alam semesta, serta tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha. Ibarat sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi seorang Buddha.

Dasar denah persegi berukuran 123 meter (404 kaki) di setiap sisinya. Bangunan ini mempunyai sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk persegi dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.

Pada tahun 1885, pada saat penelitian terhadap bangunan ini, ditemukan sebuah struktur tersembunyi di kaki Borobudur yang disebut 'Kaki Tersembunyi'. Pada bagian kaki candi ini terdapat relief berjumlah 160 panel relief yang menjelaskan diantaranya relief cerita Karmawibhangga. Pada panel relief ini terdapat ukiran atau semacam tulisan, tulisan yang menjadi pedoman bagi pemahat untuk membuat suatu adegan pada gambar relief cerita.

Kaki asli ini ditutupi dengan penambahan struktur batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, dan fungsi sebenarnya masih menjadi misteri. Awalnya penambahan kaki tersebut diduga untuk mencegah longsor pada tugu. Teori lain menjelaskan bahwa penambahan kaki disebabkan oleh kesalahan desain kaki aslinya, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, yaitu buku India tentang bentuk arsitektur dan tata kota. Alasan penambahan dan pembuatan kaki tambahan dilakukan secara cermat dan memperhatikan alasan agama, estetika, dan teknis.

Tiga tingkatan alam spiritual dalam kosmologi Budha, penjelasan bagian-bagian Borobudur adalah sebagai berikut:

Kamadhatu
Kaki melambangkan dunia yang masih didominasi oleh kama atau “keinginan yang lebih rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi.

Relief Cerita dinding kaki candi Borobudur

Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding Kaki Candi Tersembunyi Borobudur sudut tenggara (Hidden Foot). Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Pada kaki aslinya terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini disembunyikan. Sebagian kecil bangunan tambahan di sudut tenggara dibuka sehingga terlihat beberapa relief di bagian ini. Struktur kaki andesit tambahan yang menutupi kaki asli mempunyai volume 13.000 meter kubik.

Rupadhatu
Empat teras berundak yang membentuk koridor keliling yang dindingnya dihiasi galeri relief disebut Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat balai dengan 1.300 gambar relief. Total panjang relief 2,5 km dengan hiasan ukiran panel sebanyak 1.212 buah.

Dinding lorong relief cerita Borobudur

Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Rupadhatu adalah dunia yang sudah mampu melepaskan diri dari nafsu, namun masih terikat oleh rupa dan wujud. Tingkatan ini mewakili alam peralihan, yaitu antara alam bawah dan alam atas. Di bagian Rupadhatu ini, arca Buddha terdapat pada ceruk atau relung pada dinding di atas langkan atau lorong. Awalnya terdapat 432 patung Buddha di relung terbuka di sepanjang luar langkan.

Dinding galeri relief cerita Rupadhatu Borobudur

Keindahan seni ukir salah satu dinding relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Pada langkan terdapat sedikit perbedaan desain yang melambangkan peralihan alam Kamadhatu ke alam Rupadhatu; Langkan paling bawah dimahkotai dengan mutiara, sedangkan empat tingkat langkan di atasnya dimahkotai dengan stupika (stupa kecil). Teras persegi ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.

Arupadhatu
Berbeda dengan lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, pada lantai lima hingga tujuh dindingnya tidak terdapat relief. Tingkatan ini disebut Arupadhatu (yang berarti tanpa bentuk atau tanpa bentuk).

Teras-teras lingkaran Arupadhatu

Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan dunia atas, dimana manusia sudah terbebas dari segala nafsu dan ikatan wujud dan wujud, namun belum mencapai nirwana.

Pada pelataran melingkar terdapat 72 buah stupa kecil yang saling bertautan, disusun dalam tiga baris mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa utama. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras melingkar yang masing-masing berjumlah 32, 24 dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupa berukuran lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, teras atas stupa sedikit lebih kecil dan lubang berbentuk persegi. Patung Budha ditempatkan di dalam stupa yang berlubang-lubang seperti di dalam sangkar.

Candi Borobudur
Borobudur sebagai bangunan suci merupakan candi Budha terbesar di dunia yang ada di Indonesia. Banyak ahli sejarah yang mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya Jawa kuno dan awal mula dibangunnya Borobudur, khususnya pada masa Hindu dan Budha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan beragama dan menjadi latar belakang keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Pulau Jawa pada masa itu.

Dilihat dari stupa teras berbentuk lingkaran, tampak seperti profil orang yang tergeletak di lereng gunung. Hidung dan dagu terlihat jelas. Konon di punggung bukit ini terdapat Gunadharma, arsitek Chandi Borobudur, yang menurut tradisi diyakini telah menjaga ciptaannya selama berabad-abad.

Pemandangan bukit Menoreh dan stupa Borobudur

Keindahan pemandangan bukit Menoreh dari teras-teras barisan stupa, adalah legenda Gunadharma tentang perbukitan Menoreh, cerita arsitek Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Legenda Gunadharma merupakan cerita rakyat tentang perbukitan Menoreh yang bentuknya sangat mirip dan menyerupai tubuh orang yang sedang berbaring. Dongeng setempat ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma berubah menjadi perbukitan Menoreh.

Struktur piramida berundak Borobudur

Desain Borobudur merupakan kebudayaan prasejarah megalitik dengan struktur piramida berundak yang terbuat dari batu yang disebut punden berundak. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Chandi Borobudur denah dasarnya berbentuk Mandala.

Borobudur Mandala, merupakan lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Struktur atasnya jelas dibedakan dengan teras. Terdiri dari tiga platform masuk kembali melingkar, yang masing-masing menopang deretan stupa berlubang. Melewati deretan stupa yang disusun melingkar konsentris, kubah tengah di atas seluruh monumen menjulang ke angkasa hingga ketinggian hampir 35 m di atas permukaan tanah. Akses serangkaian gerbang, tangga mengarah langsung ke teras melingkar, melalui koridor teras persegi. Tangga dipasang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi, dan dihubungkan dengan tangga candi.

Pintu masuknya dijaga oleh patung singa, sedangkan patung singa lainnya menjaga berbagai tingkat piramida, total ada 32 patung singa. Di sudut-sudut tingkatan dipasang cerat untuk mengalirkan air hujan dari galeri. Sebanyak 100 buah cerat diukir berbentuk makara (gargoyle).

Chandi Borobudur dibangun di atas bukit alami yang punggung bukitnya yang panjang diratakan dan diubah menjadi dataran tinggi. Bagian utama dari dataran tinggi adalah lokasi monumen. Tembok di puncak bukit ini masih utuh. Dataran di sebelah barat laut bukit menjadi lokasi vihara.

Pemandangan Candi Borobudur

Pemandangan bukit, terletak diatas bukit alami yang diratakan dan diubah menjadi dataran tinggi yang menjadi lokasi biara. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Dataran tinggi Borobudur beberapa meter lebih tinggi dari dataran di sekitarnya, puncak bukitnya menjulang paling tinggi di atas dataran tinggi tersebut. Itu terletak di bukit yang dibangun. Ketinggian puncak bukit tidak cukup untuk membentuk inti struktur. Teknik bangunan yang digunakan dalam pembangunan candi Borobudur di atas batu. Materialnya tidak dikumpulkan dari tambang, melainkan diambil dari sungai tetangga. Batu-batu tersebut dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, diangkut ke lokasi, dan ditempatkan tanpa mortar.

Batu-batu tersebut dibuat untuk digenggam dengan menggunakan pas pada sambungan horizontal, dan alur pada sambungan vertikal. Penggunaan kenop di satu sisi batu yang dimasukkan ke dalam lubang yang sesuai di sisi berikutnya adalah hal biasa. Penataan ini memberikan keleluasaan tertentu, sehingga tugu berdiri dengan gerakan ringan tanpa mengalami bahaya runtuh. Setelah bangunan selesai dibangun, ukiran dan dekorasi lainnya ditambahkan. Biasanya dimulai dari atas, namun bisa juga ditambahkan secara bersamaan di beberapa bagian.

Lorong dinding relief cerita Borobudur

Salah satu lorong koridor dan galeri dinding berukir relief cerita Borobudur, dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Arsitektur Borobudur

Arsitektur Borobudur merupakan mahakarya seni Budha Indonesia, contoh puncak pencapaian keselarasan antara teknik arsitektur dan estetika seni Budha di Jawa.

Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak antara ujung ibu jari dan ujung kelingking ketika diangkat. telapak tangan terentang penuh. Satuan ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, namun satuan ini tetap ada dalam monumen ini.

Penelitian pada tahun 1977 menjelaskan rasio 4:6:9 yang terdapat pada monumen ini. Arsitek menggunakan rumus ini untuk menentukan dimensi pasti dari pengulangan geometri fraktal yang serupa dalam desain Borobudur. Rasio matematis ini juga ditemukan pada desain candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Para arkeolog percaya bahwa rasio 4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi dan makna dalam kalender, astronomi, dan kosmologi. Hal serupa juga terjadi pada kuil Angkor Wat di Kamboja.

Struktur bangunan dapat dibagi menjadi tiga bagian: alas (kaki), badan, dan atas. Basisnya berukuran 123×123 m (403,5×403,5 kaki) dengan tinggi 4 meter (13 kaki). Tubuh candi terdiri atas lima teras berbentuk bujur sangkar yang semakin mengecil di bagian atasnya. Teras pertama terletak 7 meter (23 kaki) dari ujung dasar teras. Setiap teras berikutnya dibuat mundur 2 meter (6,6 kaki), menyisakan lorong sempit di setiap tingkat.

Struktur tiga bagian Borobudur

Struktur tiga bagian menjelaskan bagian dasar (kaki), tubuh, dan puncak candi Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Bagian atas terdiri atas tiga teras berbentuk lingkaran yang masing-masing tingkatnya menopang deretan stupa yang saling bertautan dan disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama terbesar di tengahnya; dengan tunas mencapai ketinggian 35 meter (115 kaki) dari tanah. Ketinggian asli Borobudur, termasuk chattra (payung tiga tingkat) yang kini dilepas, adalah 42 meter (138 kaki).

Motif Kala-Makara banyak ditemukan pada arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus menjadi titik awal pembacaan cerita relief. Tangga lurus ini terus menyambung dengan tangga di lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.

Gapura Kala-Makara Borobudur

Salah satu Tangga Borobudur yang mendaki melalui gapura berbentuk ukiran Kala-Makara Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Tangga yang terletak di tengah empat sisi mata angin membawa pengunjung ke puncak monumen melalui rangkaian gerbang lengkung yang dijaga oleh 32 patung singa. Gapura gerbangnya dihiasi ukiran kala pada bagian atas tengah pintu dan ukiran makara yang menonjol pada kedua sisinya.

Stupa-stupa teras Arupadhatu Borobudur

Pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Borobudur Stupa

Tingkat tertinggi Borobudur yang menggambarkan ketiadaan wujud sempurna disimbolkan dalam bentuk stupa terbesar dan tertinggi. Stupa ini digambarkan polos tanpa lubang. Di dalam stupa terbesar ini ditemukan patung Buddha tidak sempurna, disebut juga Buddha tidak lengkap, yang disangka sebagai patung 'Adi Buddha'. Meskipun melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ditemukan arca di stupa utama, namun ketidaklengkapan arca tersebut merupakan kesalahan yang dilakukan pematung pada zaman dahulu.

Menurut kepercayaan, patung yang salah dalam proses pembuatannya tidak boleh rusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi menemukan banyak patung seperti ini. Stupa induk yang dibiarkan kosong diperkirakan melambangkan kebijaksanaan tertinggi yaitu kasunyatan, keheningan dan ketiadaan yang sempurna dimana jiwa manusia tidak lagi terikat oleh hawa nafsu, keinginan dan wujud serta terbebas dari siklus samsara.

Ada sekitar 55.000 meter kubik batu andesit yang diangkut dari tambang batu dan tatahan untuk membangun monumen ini. Batu-batu ini dipotong dengan ukuran tertentu, diangkut ke lokasi dan disatukan tanpa menggunakan semen.

Struktur Borobudur tidak menggunakan semen sama sekali, melainkan memiliki sistem interlock, yaitu seperti balok Lego yang dapat direkatkan tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci kedua balok batu tersebut menjadi satu. Relief tersebut dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding selesai dibangun.

Sistem interlock (saling kunci)

Salah satu pemasangan batu dengan bentuk saling kunci yaitu menempel tanpa perekat dengan bentuk "ekor merpati" blok batu Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan berbentuk kepala raksasa kala atau makara.

Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain.

Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.

Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.

Teras stupa Borobudur

Salah satu teras Borobudur dengan deretan stupa dan pemandangan bukit Menoreh disebelah selatan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.



Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Dalam narasi sejarah Borobudur disebutkan ukiran panil relif yang terpahat pada dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki yang disebut dengan 'Upanat' kepada Brahmana.

Upanat Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi dalam naskah Karmawibhangga, berisi tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan.

Menjelaskan bahwa 'Upanat' merupakan alas kaki yang digunakan pada saat mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Pemandangan Borobudur dari bukit Dagi

Keindahan pemandangan Borobudur dari Bukit Dagi. Borobudur merupakan candi Budha yang dibangun di atas bukit pada masa pemerintahan Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi. Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari enam teras bujur sangkar, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur. foto arisguide.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.




 

Chandi Borobudur

Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di atas sebuah bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara adalah bukit Tidar, dan di selatan adalah pegunungan Menoreh, dan terletak di dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo di sebelah timur.

Terletak Borobudur atau Barabudur, namanya berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau pura umat Buddha, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali. kata 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Kemudian arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Selamat Datang di Borobudur
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.




Gapura Makara dan Stupa Utama.
Ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya. Tampak stupa utama terbesar sebagai mahkota dibelakang. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Upanat adalah alas kaki.
Relif Karmawibhangga dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur - arisguide.

Memperkenalkan 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan dalam kunjungan menaiki teras-teras melalui lorong-lorong dengan galeri panil relief menuju bagian atas yang berbentuk lingkaran dengan deretan stupa pada Candi Borobudur.

Lorong dinding dengan ukiran relif.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Desain struktural

Chandi Borobudur, sesuai dengan namanya, bahwa Borobudur dibangun di atas bukit alami yang bagian atasnya diratakan dan dibentuk menjadi dataran tinggi. Bagian utama dataran tinggi tersebut membentuk situs pada monumen. Dataran tinggi di puncak bukit ini dibiarkan masih utuh. Dataran di bagian lereng sebelah barat laut bukit menyediakan tempat untuk bangunan sebuah biara.

Deretan stupa teras Arupadhatu.
Stupa pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan relik Buddha, yang ditempatkan di berbagai tingkat piramida. Chandi Borobudur merupakan keindahan nilai seni estetika dan keagamaan Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Pembangun Candi Borobudur menyadari perlunya sistem drainase karena tingginya curah hujan. Karena Borobudur sangat berbeda dari semua candi lain di Indonesia, sering dikatakan itu adalah stupa dan bukan candi sama sekali. Cerat disediakan di sudut-sudut tahap instalasi untuk mengalirkan air hujan dari galeri. Semua 100 cerat diukir dengan indah dalam bentuk makara (gargoyle).

Stupa Borobudur
Stupa pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan relik Buddha di Chandi Borobudur. Stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur - arisguide. Foto screenshot arisguide.

Stupa ini awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan relik Sang Buddha. Namun, kemungkinan besar sisa-sisa orang suci Buddha terkemuka diabadikan dalam stupa semacam itu. Terkadang stupa dibangun hanya sebagai simbol kepercayaan Budha.

Candi terutama dimaksudkan untuk menampung dewa, tetapi relik sangat penting untuk fungsinya. Bagian tertentu dari candi disisihkan untuk kotak relik. Namun, ini bukanlah sisa-sisa fisik, melainkan logam, batu mulia, dan biji-bijian, yang sebenarnya dimaksudkan untuk sebagai kenang-kenangan dari para dewa, yang melambangkan kekuatan Sang Pencipta. Peninggalan semacam itu belum ditemukan di candi Borobudur, peninggalan orang suci, atau kenang-kenangan dewa. Tidak mungkin sisa-sisa itu pernah diabadikan di monumen tersebut. Untuk tujuan seperti itu, jenis stupa lain akan didirikan dan, memang, stupa yang lebih kecil digali pada awal abad ini di kaki bukit timur laut. Isi yang sedikit tidak dapat diidentifikasi dengan pasti sebagai sisa-sisa, tetapi stupa serupa di pelataran Chandi Kalasan ternyata berisi abu orang mati dan sisa-sisa barang yang digunakan oleh para biksu.

Stupa besar tersebut tidak hanya menjadi mahkota bangunan itu sendiri, sembilan teras tersebut kemudian menjadi alas berundak yang menopangnya. Sangat mungkin sebuah stupa didirikan di atas beberapa alas, tetapi tidak mungkin ukuran dan kepentingannya dikerdilkan oleh alas tersebut. Ini tidak dapat didamaikan dengan rasa keindahan tertinggi dan kualitas karya yang terlihat jelas di setiap detail Chandi Borobudur. Lagi pula, konstruksi yang melibatkan tidak kurang dari 55.000 meter kubik batu tidak akan pernah dimulai tanpa desain yang terencana dengan baik terlebih dahulu. Oleh karena itu, kesimpulan yang jelas adalah Candi Borobudur adalah sebuah candi dan bukan stupa, meskipun berbeda dengan candi-candi lain di Indonesia. Pembagian vertikal Chandi Borobudur menjadi dasar, badan, dan bangunan atas, menjadikan stupa besar hanya bagian atas monumen.

Struktur bangunan
Tingkatan tertinggi menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.

Didalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga dengan Buddha yang tidak rampung selesai, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adi Buddha'. Padahal melalui suatu penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan darii pemahatnya pada zaman dahulu.

Menurut kepercayaan bahwa patung tersebut adalah salah dalam proses pembuatannya, dan memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan yang sempurna di mana jiwa manusia sudah tidak lagi terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.

Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat pemotongan dan penatahan untuk membangun monumen ini. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, kemudian diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen.

Struktur Borobudur tidak imemakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung. Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan berbentuk kepala raksasa kala atau makara.

Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.

Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.

Borobudur pada awalnya berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.

Stuktur candi Borobudur dibagi dalam tiga bagian sesuai dengan tingkatan (datu), penjelasan menurut Stutterheim. Struktur candi 10 tingkatan sesuai dengan naskah dasabhumi-sutra untuk mencapai kebudhaan harus melalui 10 tingkatan, menurut de casparis. Sebagai mandala, yang nyata (garbhadatu) dan yang ideal (vajradhatu), menurut Marsis sutopo, ed, 2011, kearsitekturan candi Borobudur, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Selamat Datang di Borobudur
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur
Situs Warisan Budaya Dunia sejak tahun 1991, salah satu pemandangan Borobudur dari barat laut.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Comments

Popular Posts