Menelusuri Prasasti Borobudur


Selamat datang di Chandi Borobudur Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata terkesima dengan kemegahan dan keindahan monumen ini. Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa dari para wisatawan, untuk berwisata dan mengunjungi bangunan ini lebih dekat.

Pemerintah telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah dan estetika tersendiri sebagai daya tarik wisata, serta menjadi destinasi wisata prioritas bagi wisatawan nusantara dan juga mancanegara. Menikmati wisata tematik Borobudur merupakan wujud apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur Chandi Borobudur.

Pamong Carita yang ramah akan menemani dan memandu Anda untuk memberikan penjelasan dan narasi tentang Borobudur dan sekitarnya. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang dikenakan ketika mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Candi Borobudur.

Menelusuri narasi sejarah masa Jawa Kuno dan awal keberadaan Candi Borobudur. Mencari literatur mengenai keberadaan lingkungan sekitar candi ini. Pada kesempatan menyenangkan ini mengeksplorasi budaya leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus belajar tentang kompleks Chandi Borobudur dan tiga candi Budha (Pawon, Mendut dan Ngawen).

Melangkah di Borobudur
Senang sekali dengan kunjungan wisatawan ke Borobudur, dan kini kita akan melangkah, mengunjungi dan mengagumi kemegahan dan keindahan salah satu situs warisan budaya dunia. Dibukanya kembali Borobudur menjadi kesempatan menarik untuk menggali beberapa sumber narasi dalam materi panduan wisata di Candi Borobudur.

Candi Budha Borobudur terletak di Borobudur, bagian dari kabupaten Magelang dan di provinsi Jawa Tengah. Perjalanan menuju lokasi Candi Borobudur kurang lebih berjarak 96 kilometer dari kota Semarang, 86 kilometer dari kota Surakarta, dan sekitar 40 kilometer dari kota Yogyakarta.

Dalam penuturan sejarah Borobudur disebutkan bahwa salah satu ukiran panel relief dari 160 panel yang diukir pada dinding kaki candi tersembunyi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat', alas kaki khusus yang diberikan kepada Brahmana, guna memperoleh pahala dan kesejahteraan dalam hidup.

Relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhanggal 150, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan.

Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi terasering melalui koridor dengan galeri panel relief yang mengarah ke puncak melingkar dengan deretan stupa di Candi Borobudur.

Wisata dan kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Candi Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, yang merupakan bentuk apresiasi belajar dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia Chandi Borobudur, di Indonesia. Narasi sejarah dalam menelusuri keberadaan prasasti dalam sejarah peradaban Jawa Kuno dan sejarah kebudayaan Borobudur.

Sanskerta
Perbandingan antara jenis tulisan atau aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis tulisan atau aksara yang terdapat pada beberapa prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screen shot arisguide.

Sejarah Awal Borobudur
Candi Buddha yang terletak di Borobudur, masuk wilayah kabupaten Magelang dan berada di propinsi Jawa Tengah. Perjalanan ke lokasi candi Borobudur kurang lebih 96 kilometer dari kota Semarang, 86 kilometer jarak tempuh dari kota Surakarta, dan sekitar 40 kilometer perjalanan dari kota Yogyakarta.

Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Chandi Borobudur dan apa kegunaannya. Diperkirakan dibangun sekitar tahun 800 masehi. Berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 M.

Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai raja yang berkuasa di Jawa beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, melalui temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itu dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu. 

Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km sebelah timur dari Borobudur. 

Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan tahun 850 M.

Pembangunan candi-candi Buddha, termasuk Borobudur pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang  disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.

Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa, kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. 

Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

Sejarah Prasasti Borobudur
Dokumen tertulis bagaimana tentang awal mula pembangunan Chandi Borobudur, referensi tentang siapa yang membangunnya, dan untuk apa tujuan yang dimaksudkan. Namun, seperti yang tertera dalam beberapa prasasti atau tulisan yang dipahatkan di batu tulis dan di atas relief pada 'kaki tersembunyi' monumen chandi Borobudur memiliki fitur grafis yang mirip dengan yang ada dalam naskah atau dalam bentuk tulisan yang biasa digunakan dalam prasasti kerajaan antara abad kedelapan dan abad kesembilan.

Kesimpulan yang jelas adalah bahwa Chandi Borobudur sangat mungkin didirikan sekitar tahun 800 M. Anggapan ini cukup sesuai dengan sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Jawa Tengah pada khususnya. Pada kurun waktu antara tahun 750 - 850 disebutkan adalah Zaman Keemasan dinasti Syailendra. Hal ini menghasilkan banyak sejumlah besar monumen, yang ditemukan hampir di seluruh dataran dan lereng gunung  Siva mendominasi di daerah pegunungan; daerah di dataran Kedu dan Prambanan, baik itu monumen Siwa dan Budha didirikan berdekatan.

Nama Syailendra pertama kali muncul dalam prasasti batu tulis yang ditemukan di Sojomerto di daerah pesisir barat laut Jawa Tengah yang kemudian disebut prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto tidak berangka tahun, tetapi berdasarkan paleografis prasasti tersebut dapat dianggap berasal dari pertengahan abad ketujuh.

Prasasti tertua, tidak hanya ditemukan di Jawa Tengah saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti yang ditemukan dalam prasasti Canggal, dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada tahun 732 M. Disebutkan prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati berdirinya tempat suci Siva lingga di bukit Gunung Ukir, kurang lebih sekitar 10 km sebelah timur Chandi Borobudur.

Nama Sanjaya kemudian muncul sekali lagi dalam prasasti Mantyasih berangka tahun 907 M, ditemukan kurang lebih sekitar 15 km sebelah utara Chandi Borobudur, prasasti Mantyasih hanya berisi daftar tentang raja - raja sebelum Raja Balitung yang memerintah (yang mengeluarkan prasasti). Prasasti tersebut yang berisi daftar raja - raja yang memerintah, secara eksplisit dianggap berasal dari dinasti Syailendra, hal ini sebenarnya masih diragukan, bahwa Rakai Panangkaran sebenarnya adalah raja Syailendra yang membangun candi Tara di desa Kalasan.

Wangsa Syailendra dikenal sebagai pengikut setia aliran Buddha, tetapi wangsa Syailendra dalam prasasti Sojomerto disebutkan adalah beraliran Hindu. Dalam prasasti Mantyasih juga disebutkan beragama Hindu. Oleh karena itu dapat dijelaskankan bahwa raja-raja yang disebutkan didalam prasasti tersebut semuanya adalah pemeluk agama Hindu.

Menurut teori ini, Rakai Panangkaran adalah seorang raja dari wangsa Sanjaya yang berperan dalam pendirian kuil atau candi Budha Kalasan, sebenarnya hanyalah untuk memberikan sebidang tanah yang diperlukan dalam pembangunan candi; belum tentu seorang yang beragama Budha. Dalam hal ini agama tidak menjadi perbedaan dan konflik serius di Indonesia. Oleh karena itu, sangat mungkin bisa saja bagi seorang raja Hindu berperan dan mendukung pendirian bangunan candi Budha, atau bagi seorang raja yang beragama Budha untuk melakukan hal yang sama sebaliknya.

Anggapan tentang hanya satu dinasti kerajaan, yang memerintah Jawa Tengah kala itu dari mulai abad kedelapan hingga awal abad kesepuluh secara langsung telah menghilangkan anggapan yang terkait mengenai asal usul wangsa Sailendra dan seberapa luas wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa Tengah. Karena Laut Jawa merupakan jalur termudah menuju ke Jawa Tengah, yang mungkin diharapkan untuk dapat menetap dan berperan aktif di wilayah utara. Namun, ini sulit untuk dipastikan dengan fakta bahwa wangsa Sailendra muncul dalam sejarah berada di bagian selatan Jawa Tengah, sedangkan wangsa Sanyaya sebelumnya sebenarnya menguasai dan memiliki wilayah lebih jauh ke utara.

Peran yang dimainkan oleh orang Indonesia dalam proses ini tampaknya tidak hanya terbatas pada mengadopsi dan mencerna unsur-unsur budaya India, tetapi juga melibatkan kebudayaan aslinya. Asumsi kontak terus menerus, atau setidaknya teratur, akan membantu menjelaskan munculnya kerajaan tertua di berbagai bagian negara. Namun, keterlibatan leluhur pribumi dalam silsilah raja yang memerintah, yang mengeluarkan dekrit, hanya dapat dianggap mencerminkan transisi kekuasaan yang mulus; karena tidak dapat dibayangkan bahwa kerajaan - kerajaan ini dapat muncul tanpa periode akulturasi yang cukup lama sebelumnya. Kenyataannya, dekrit - dekrit itu, yang disusun dalam bahasa Sanskerta yang sempurna, tidak akan masuk akal bagi orang - orang yang dituju kecuali jika mereka sudah dapat menghargai bahasa yang cukup asing ini, yang sekarang digunakan dalam dokumen-dokumen resmi.

Sejarah paling awal Indonesia ditandai dengan kebangkitan mendadak, dan akhir yang tiba - tiba, dari kerajaan-kerajaan tertua. Kerajaan Kutai di Kalimantan (abad kelima) dan kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (abad kelima), masing - masing memiliki dekrit kerajaan, yang dikeluarkan oleh satu raja. Keberadaan kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur diketahui dari satu dokumen, Prasasti Dinoyo tahun 760 M.

Aliran dokumen tertulis yang kurang lebih berkelanjutan tersedia di Jawa Tengah, dimulai dengan prasasti Changgal tahun 732 M dan diakhiri dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada awal abad kesepuluh. Dari pertengahan abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 dikenal sebagai periode Jawa Timur. Meskipun Sumatera dan Bali juga berkontribusi dalam pembuatan sejarah Indonesia, sebagian besar peristiwanya adalah dokumenter tercantum dalam prasasti dan manuskrip Jawa Timur. Bangunan juga terkonsentrasi di Jawa Timur, sehingga Jawa Tengah dan Jawa Timur telah menjadi istilah yang diterima dalam kaitannya dengan monumen dan patung dalam sastra.

Prasasti Borobudur
Kajian terhadap bangunan suci Candi Borobudur sebagai situs cagar budaya, melalui prasasti yang menjadi sumber data tentang keberadaan situs peninggalan purbakala yang berlatar belakang bangunan suci Budha. Candi Borobudur merupakan situs peninggalan budaya peninggalan Dinasti Syailendra yang dibangun pada abad ke 8 oleh Samaratungga dan keberadaannya disebutkan dalam dua prasasti yaitu prasasti Karangtengah dan Sri Kahulunan.

Seperti yang terdapat pada jenis tulisan/aksara yang tertulis di kaki Borobudur tenggara pada relief Karmawibhangga dengan perbandingan jenis tulisan/aksara yang umumnya digunakan pada prasasti kerajaan pada abad ke-8 dan ke-9.

Sejarah keberadaan candi Borobudur disebutkan dalam dua prasasti, periode antara tahun 760 hingga 830 M yang merupakan puncak kejayaan dinasti Syailendra di Jawa Tengah yang pada saat itu masih dipengaruhi oleh kerajaan Sriwijaya. Jika dilihat dari sejarah Candi Borobudur merupakan candi atau bangunan suci Budha peninggalan kerajaan Mataram yang saat itu menguasai Pulau Jawa pada abad VIII – X Masehi, pada puncak kejayaan Dinasti Syailendra.

Meski belum ada dokumen pasti mengenai kapan bangunan suci Borobudur ini dibangun dan apa kegunaannya, namun hal tersebut sebagaimana disebutkan dan dijelaskan dalam dua prasasti yang ditemukan, sebagai sumber data narasi sejarah di Indonesia. Prasasti tersebut adalah prasasti Karangtengah/Kayumwungan tahun 824 M dan prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan tahun 842 M. Kedua prasasti ini menjelaskan asal usul nama bangunan suci Budha dan awal mula pembangunan Candi Borobudur.

Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri Kahulunan tertulis bahwa "Bhumi Sambhara Budhalra" dan "Kamulan" adalah bangunan candi Borobudur yang dibangun antara kurun waktu tahun 760 dan 830 M, pada masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur membutuhkan waktu 75 - 100 tahun yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 M.

Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, hal ini dijeaskan melalui temuan prasasti Sojomerto yang menunjukkan bahwa mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itu dibangun berbagai candi-candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.

Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja yang beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang ada di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan tahun 850 Masehi.

Pembangunan candi Buddha, termasuk Borobudur, pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk tujuan memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.

Hal ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.

Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

Mempelajari bangunan suci Candi Borobudur sebagai situs cagar budaya, melalui prasasti yang merupakan sumber data tentang keberadaan situs peninggalan purbakala yang berlatar belakang bangunan suci agama Buddha. Candi Borobudur merupakan situs cagar budaya peninggalan wangsa Syailendra, yang dibangun pada abad ke-8 oleh Samaratungga dan keberadaannya disebutkan dalam dua prasasti, yaitu prasasti Karangtengah dan Sri Kahulunan.

Sejarah keberadaan candi Borobudur disebutkan dalam dua prasasti, kurun waktu antara tahun 760 dan 830 Masehi, merupakan puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang pada saat itu masih dipengaruhi oleh kerajaan Sriwijaya. Menengok sejarah Candi Borobudur, merupakan candi atau bangunan suci agama Buddha, peninggalan kerajaan Mataram yang saat itu berkuasa di Jawa pada abad VIII – X Masehi, pada puncak masa kejayaan wangsa Syailendra.

Meskipun tidak ada dokumen yang pasti tentang kapan bangunan suci Borobudur dibangun dan apa kegunaannya, hal ini seperti yang disebutkan dan dijelaskan dalam dua prasasti yang ditemukan, sebagai sumber data narasi sejarah di Indonesia. Prasasti tersebut yaitu prasasti Karangtengah/Kayumwungan 824 M dan prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan 842 M. Kedua prasasti tersebut menjelaskan asal usul nama bangunan suci agama Buddha dan awal mula pembangunan candi Borobudur.

Pembangunan candi Borobudur yang paling awal dijelaskan dalam prasasti Karangtengah/Kayumwungan. Prasasti ini sesuai dengan sebutan namanya ditemukan di Dusun Karangtengah. Merupakan prasasti yang terdiri dari dua bagian. Pada bagian pertama prasasti tersebut tersusun dalam tulisan bahasa Sanskerta. Kemudian dalam prasasti bagian yang kedua berbeda karena disebutkan ditulis dalam bahasa Jawa Kuno, dan pada baris yang terakhir belum merupakan penutup. Alasannya tidak banyak yang diketahui isi daripada bagian akhir, dikarenakan kelanjutannya telah hilang, dan tidak ditemukan kembali batu yang patah pada bagian akhir.

Pada bagian pertama prasasti yang tersusun dan ditulis dalam bahasa Sanskerta, menjelaskan keterangan tentang Samaratungga yang disebut sebagai 'permata wangsa Syailendra dan putrinya yang bernama 'Pramodawardhani', karena keduanya telah berjasa dalam mendirikan sebuah bangunan suci agama Buddha yang dinamakan "Jinalaya". Dituliskan juga dalam prasasti tersebut tentang penanggalan yaitu hari, bulan, dan angka tahunnya, yaitu tertulis tahun 824 Masehi, angka tahun tersebut berhubungan erat dengan didirikannya sebuah arca yang dibuat dari bahan perunggu, karena dijelaskan dengan keterangan bersinar seperti bagian dari bulan, dan diberi sebutan “Cri Ghananatha”, arca tersebut diabadikan dalam sebuah bangunan suci yang diberkati oleh para bangsawan.

Selanjutnya dalam prasasti tersebut juga dicantumkan harapan-harapan bagi yang telah berjasa dalam mendirikan bangunan suci agama Buddha yang bernama "Jinamandira", dan disebut dengan 'Crimad Venuvana' yang artinya 'Hutan Bambu yang mulia', untuk mendapatkan segala pahala dalam mencapai kesugatan yang ke sepuluh yaitu menjadi Buddha. Pada bagian penutupnya berisi seruan agar para keturunannya kelak dapat melindungi, memelihara dan serta menyelamatkan demi kelangsungan bangunan suci ini.

Berbeda dengan bagian pada prasasti sebelumnya, bagian kedua prasasti yang berbahasa Jawa Kuna dengan angka tahun 824 Masehi, berisi tentang penetapan dan pemberian hibah yang disampaikan oleh Rakarah Patapan Pu Palar. Dalam penetapan tersebut dijelaskan berupa sejumlah sawah-sawah Sima, yang mempunyai tujuan sebagai tempat tinggal dalam pemeliharaan bagi kelangsungan bangunan suci tersebut.

Penetapan dan pemberian hibah itu disertai dengan penjelasan perincian tanah-tanah dan daftar dari para saksi-saksi beserta hadiah bagi para saksi-saksi tersebut. Pada bagian akhir atau penutup dari prasasti ini telah hilang sehingga kalimat terakhir mengenai perintah dari Rakai Patapan tidak banyak diketahui.

Penjelasan yang berhubungan dengan keterkaitan pendirian sebuah arca dengan perwujudan 'Cri Ghananatha', yang menurut De Casparis, berpendapat bahwa didirikannya arca tersebut, tidak lain adalah sebagaimana diwujudkannya dalam bentuk arca Raja Indra yang telah wafat dan sebagai tempat perabuan, dimakamkannya abu jenasahnya dalam bangunan suci yang diperuntukkan khusus baginya, yaitu Ghananatha yang artinya Raja Awan, menyebutkan tidak lain adalah Raja Indra. Raja Indra adalah raja dari wangsa Syailendra yang mendirikan prasasti Kelurak tahun 782 M. Menurut De Casparis, prasasti Kayumwungan ini sebenarnya mempunyai tujuan untuk memperingati pendirian bangunan-bangunan suci Buddha yaitu candi Borobudur, candi Pawon dan candi Mendut yang telah dibangun oleh Samaratungga.

Keberadaan bangunan suci Buddha Borobudur, juga disebutkan dan dijelaskan dalam prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan. Prasasti ini berangka tahun 842 M, dan dibuat oleh Sri Kahulunan. Menurut De Casparis, menjelaskan bahwa dalam prasasti tersebut, Sri Kahulunan dipercaya sebagai Pramodawardhani, yaitu anak perempuan dari Samaratungga. Dalam narasi sejarah Pramodawardhani juga disebutkan namanya dalam prasasti Karangtengah, lebih lanjut prasasti ini menjelaskan bahwa Pramodawardhani mempunyai gelar Sri Kahulunan, yang dijelaskan juga dalam narasi sejarah prasasti Jawa Kuno menurut pendapat Soekmono, dan pendapat Poesponegoro dan Notosusanto.

Prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan pada dasarnya secara rinci berisi tentang pemberian/penetapan sebuah nama desa Tri i Tpusan, yang menjadi Sima atau disebut dalam arti sebagai desa tanah perdikan, yang khusus diperuntukkan bagi Kamulan di Bhumisambhara. Penetapan tanah perdikan tersebut terdiri atas sawah-sawah dari para Nayaka yaitu sejumlah sawah-sawah yang dimiliki oleh segenap para Winkas, dan sawah-sawah yang dimiliki oleh kedua orang Wadwa Huma. Pemberian dan penetapan sawah-sawah tersebut disampaikan oleh Sri Kahulunan, sebagaimana yang diperintahkan untuk memberikan batas-batas Sima ini ialah sang Darukap dan beberapa orang pejabat dari daerah Kayumwungunan, Mantyasih, dan Patapan. Prasasti Sri Kahulunan juga menjelaskan yang isinya keterangan tentang upacara penetapan dan pemberian Sima tersebut yang dihadiri oleh pejabat dari desa-desa disekelilinginya.

De Casparis menegaskan berdasarkan pada isi dalam Prasasti Sri Kahulunan, berpendapat bahwa penyebutan nama Kamulan i Bhumisambhara tidak lain adalah untuk menyebutkan bangunan suci yang diartikan sebagai candi Borobudur dan dianggap sebagai bangunan atau candi untuk tempat pemujaan dan cikal bakal keberadaan wangsa Syailendra. De Casparis juga menjelaskan bahwa dalam hal ini Sri Kahulunan bukan yang membangun candi Borobudur, melainkan perannya hanya menghibahkan sebagian tanah miliknya, disebutkan Sima atau tanah perdikan, yang mempunyai tujuan untuk kepentingan dan kelangsungan bangunan suci ini. Hal ini menunjukan bahwa pada waktu itu, bangunan suci yang dimaksudkan tahun 842 M, adalah candi Borobudur telah dibangun.

Bangunan candi Buddha Borobudur dalam pembangunannya membutuhkan waktu kurang lebih selama 100 tahun, pada masa kejayaan pemerintahan raja Samaratungga dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M.

Selamat Datang di Borobudur
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Prasasti Borobudur
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

POPULER DI BLOG INI
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

Comments

Popular Posts