Kebudayaan Borobudur
Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata terkesima dengan kemegahan dan keindahan monumen ini. Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa dari para wisatawan, untuk berwisata dan mengunjungi gedung ini lebih dekat.
Pemerintah telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah dan estetika tersendiri sebagai daya tarik wisata, serta menjadi destinasi wisata prioritas bagi wisatawan nusantara dan juga mancanegara. Menikmati wisata tematik Borobudur merupakan wujud apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur Chandi Borobudur.
Pamong Carita yang ramah akan menemani dan memandu Anda untuk memberikan penjelasan dan narasi tentang Borobudur dan sekitarnya. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang dikenakan ketika mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Candi Borobudur.
Menelusuri narasi sejarah masa Jawa Kuno dan awal keberadaan Candi Borobudur. Mencari literatur mengenai keberadaan lingkungan sekitar candi ini. Pada kesempatan menyenangkan ini mengeksplorasi budaya leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus belajar tentang kompleks Chandi Borobudur dan tiga candi Budha (Pawon, Mendut dan Ngawen).
Melangkah di Borobudur
Senang sekali dengan kunjungan wisatawan ke Borobudur, dan kini kita akan melangkah, mengunjungi dan mengagumi kemegahan dan keindahan salah satu situs warisan budaya dunia. Dibukanya kembali Borobudur menjadi kesempatan menarik untuk menggali beberapa sumber narasi dalam materi panduan wisata di Candi Borobudur.
Candi Budha Borobudur terletak di Borobudur, bagian dari kabupaten Magelang dan di provinsi Jawa Tengah. Perjalanan menuju lokasi Candi Borobudur kurang lebih berjarak 96 kilometer dari kota Semarang, 86 kilometer dari kota Surakarta, dan sekitar 40 kilometer dari kota Yogyakarta.
Dalam penuturan sejarah Borobudur disebutkan bahwa salah satu ukiran panel relief dari 160 panel yang diukir pada dinding kaki candi tersembunyi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat', alas kaki khusus yang diberikan kepada Brahmana, guna memperoleh pahala dan kesejahteraan dalam hidup.
Relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan.
Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi terasering melalui koridor dengan galeri panel relief yang mengarah ke puncak melingkar dengan deretan stupa di Candi Borobudur.
Wisata dan kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Candi Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, yang merupakan bentuk apresiasi belajar dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia Chandi Borobudur, di Indonesia. Narasi sejarah dalam menelusuri keberadaan prasasti dalam sejarah peradaban Jawa Kuno dan sejarah kebudayaan Borobudur.
![]() |
| Borobudur Pemandangan Candi Borobudur dari Bukit Dagi dengan pagar Pegunungan Menoreh. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Kebudayaan Borobudur
Menurut legenda Jawa, konon daerah yang dikenal dengan Dataran Kedu ini merupakan tempat yang dianggap keramat dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan dipuja sebagai 'Taman Pulau Jawa' karena keindahan alam dan keasrian serta kesuburan tanahnya.
Keberadaan Candi Borobudur merupakan tempat ibadah agama Buddha Mahayana yang dibangun oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra pada abad VIII Masehi. Candi Borobudur merupakan bangunan terbesar di Indonesia. Banyak ahli sejarah yang mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya di Borobudur, khususnya pada masa Hindu-Buddha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan beragama dan latar belakang keberadaan kerajaan-kerajaan yang menguasai Pulau Jawa pada masa itu.
Candi Borobudur sebagai karya masa lampau merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno yang menguasai Pulau Jawa sekitar abad ke 8 – 9 Masehi, keberadaannya diketahui dari beberapa prasasti. Prasasti Jawa Kuno yang dijadikan sumber narasi sejarah dipahat atau ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna, sebagian prasasti yang ditemukan terdapat di kawasan sekitar Borobudur.
Prasasti Jawa Kuno kurun waktu abad VI – X Masehi, pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, yaitu : Sambandha merupakan bagian prasasti yang memuat penanggalan dan pujian terhadap dewa atau raja. Pada bagian isi terdapat maksud dan tujuan prasasti, seperti isi prasasti tentang pelantikan, sima, dan keadilan. Sedangkan di bagian akhir terdapat peringatan seperti kutukan, atau pujian kepada raja atau dewa.
Dalam narasi sejarah kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah disebutkan tentang ditemukannya sebuah prasasti bernama Sojomerto. Prasasti Sojomerto sekitar akhir abad ke-7 Masehi menyebutkan bahwa prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Isinya tentang menjelaskan dan mengungkap keluarga Dapunta Sailendra yang merupakan cikal bakal dinasti Sailendra di tanah Jawa.
Perdebatan mengenai sejarah awal mula berdirinya dua dinasti yang berkuasa di Jawa Tengah yaitu Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya pada masa itu memunculkan beberapa pendapat atau teori yang menjelaskan perbedaan antara Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya, yang sebelumnya pernah berkuasa di Jawa Tengah. Seperti teori yang dikemukakan FDK Bosch dan JG de Casparis mengenai dua dinasti di Jawa Tengah, tidak sejalan dengan teori para ahli lainnya.
Pendapat R.Ng Poerbatjaraka dan Boechari mengenai keberadaan dinasti Sailendra di Jawa Tengah menjelaskan bahwa pada saat itu hanya ada satu dinasti yaitu dinasti Sailendra. Pendapat R. Ng. Poerbatjaraka diperkuat oleh Buchari dan didukung berdasarkan isi prasasti Sojomerto.
Istilah Sanjayawamsa belum pernah ditemukan dalam sumber-sumber baik prasasti maupun teks sastra, yang ada adalah istilah Salendrawamsa yang disebutkan dalam prasasti Kalasan tahun 778 Masehi. Dapunta Selendra merupakan cikal bakal dinasti Selendra (Sailendra). Raja-raja Mataram kuno merupakan keturunan Dapunta Selendra. Dinasti tidak berhubungan dengan agama, tetapi dinasti berhubungan dengan darah (silsilah). Buktinya, daftar raja-raja Mataram kuno pada prasasti Mantyasih I tahun 907 M dan prasasti Wanua Tengah III tahun 908 M, meski berbeda agama, namun tetap mengaku satu dinasti.
Menyebutkan beberapa prasasti seperti: Prasasti Tukmas bertanggal 700 M, dengan huruf Pallawa muda, berbahasa Sansekerta. Berisi sumber air jernih berkilau seperti emas, dan terdapat prasasti Hindu. Prasasti Canggal yang ditemukan di Kompleks Candi Gunung Wukir, berbahasa Sansekerta, dengan huruf pallawa. Angka tahunnya menyatakan tahun 654 Saka. Prasasti Canggal berangka tahun 732 M memuat pendirian Lingga oleh Rakai Mataram, Ratu Sanjaya selaku Raja Pertama Kerajaan yang berkedudukan di Medang. Menyampaikan informasi tentang perdamaian dan kesejahteraan di Pulau Jawa saat itu.
Narasi sejarah Mataram Kuno Jawa Tengah disebutkan dalam Prasasti Canggal tahun 732 M yang menyatakan bahwa ia merupakan pulau mulia bernama Jawa yang tiada tandingannya dari segi hasil pertanian khususnya padi; Kaya akan tambang emas yang hanya diakui sebagai milik para dewa; Sebuah pulau yang penuh dengan tempat ibadah suci, dan diberi nama sesuai dengan keselamatan dan kemakmuran dunia.
Dinasti atau penguasa yang disebutkan dalam narasi sejarah Mataram Kuno, Jawa Tengah, digambarkan dalam prasasti Sankhara yang berangka tahun 750 Masehi. Prasasti Sankhara menjelaskan tentang prasasti yang berbahasa Sansekerta. Disebut-sebut sebagai pemegang kunci perpindahan kerajaan dari Hindu ke Budha.
Prasasti Sankhara memuat kisah Raja Sankhara (Rakai Panangkaran) yang berpindah agama dari Siwa ke Buddha Mahayana, disebut sebagai agama welas asih karena agama yang dianutnya ditakuti banyak orang. Selanjutnya ayah raja Sankhara (Sanjaya) jatuh sakit dan meninggal dunia akibat menjalankan ritual agama Hindu. Kemudian Sankhara berpindah agama menjadi Buddha Mahayana. Dalam prasasti itu Rakai Panangkaran disebut juga dengan Dharanindra atau Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya dalam Prasasti Kelurak/Manjusrigrha tahun 782 Masehi. Raja Sangkhara mulai membangun banyak bangunan suci Budha khususnya di kawasan Prambanan, yaitu Candi Kalasan pada tahun 778 M, Candi Sewu pada tahun 782 M, Candi Boko pada tahun 792 M, dan peletakan batu pertama pembangunan Candi Borobudur pada tahun 775 Masehi.
Salah satu episode sejarah Asia Tenggara kuno yang paling dikenal adalah raja Kamboja Jayawarman II dalam membebaskan negaranya dengan mendirikan tempat pemujaan Devaraja dan menyatakan dirinya sebagai Raja Dunia pada Gunung Mahendra Parwata di tahun 802 M, terdapat pada Prasasti Sdok Kok Thom, 1052 M. Jayawarman II adalah seorang pangeran yang tinggal di Kerajaan Sailendra di Jawa dan membawa kembali ke seni dan budaya Sailendran Jawa ke Kamboja.
Di jelaskan bahwa Rakai Warak Dyah Manara dikenal sebagai Samaratungga yaitu anak dari Samaragrawira / Rakai Panunggalan, adalah raja keempat Kerajaan Mataram Kuna pada periode Jawa Tengah. Hal ini Samaragrawira mempunyai dua anak, Samaratungga dan Balaputradewa. Samaratungga mempunyai anak, Pramodhawardhani. Kemudian terlibat dalam perebutan kekuasaan dengan Balaputradewa pada saat Pramodhawardhani sudah menjadi permaisuri Rakai Pikatan.
Borobudur disebutkan dalam Prasasti Sri Kahulunan / Tri Tepusan tahun 824 Masehi. Pada Prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan yang berangka tahun 842 M menjelaskan tentang Sri Kahulunan, yaitu Pramodawardhani adalah tokoh perempuan yang menganugerahkan tanah perdikan untuk pemeliharaan bangunan suci “kamul ni bhumi sambhara” atau melambangkan tempat berkumpulnya semua kebajikan umat Buddha yang disebut dengan “da avidham” bangunan bertingkat atau berlapis 10 yaitu Candi Borobudur.
Lansekap Borobudur
Candi Buddha Borobudur mempunyai keterkaitan dengan candi-candi Budha lainnya, sebagai tempat suci dalam hal sebagai aksis imaginer candi utama, mempunyai arah hadap candi dengan perbandingan sudut mengarah ke Borobudur dan elemen arsitektural, arca singa, pelipit bergerigi, relief Jataka, arca Buddha, relief Bodhisatwa. Dalam hubungan diantara Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen, hubungan keterkaitan tersebut adalah sebagai aksis imaginer candi utama, mempunyai arah hadap candi dengan perbandingan sudut mengarah ke Borobudur, dan elemen arsitektural, arca Singa, pelipit bergerigi, relief Jataka, arca Buddha.
Kompleks Candi Borobudur, mempunyai keterkaitan didalam prosesi ritual, Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen adalah kesamaan dalam prosesi ritual meliputi beberapa hal yang terkait dengan aksis imaginer candi utama, arah hadap candi dengan perbandingan sudut mengarah ke Borobudur dan mempunyai elemen arsitektural, Arca Singa, pelipit bergerigi, relief Jataka, arca Buddha, dan relief Bodhisatwa.
Menjelaskan lansekap Pedesaan pada masa Jawa Kuno pada Candi Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daerah-daerah seperti Gunung dan bukit, Lingkungan pertanian, Permukiman dan rumah tradisional, Pembuatan tembikar, dan Bekas danau purba.
Sedangkan lansekap pedesaan Jawa Kuno, menurut data yang diambil dari relief Candi Borobudur dengan alat interpretasi yang berupa prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan sebagai beberapa hal seperti rekonstruksi proses budaya, sejarah budaya, dan rekonstruksi cara hidup (Sawah, Kebun, Tegal).
Relief cerita merupakan pengalihan naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni konkrit. Karena dimaksudkan sebagai gambaran suatu cerita, maka relief tersebut memuat bentuk-bentuk tertentu yang disusun oleh seniman untuk mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi dalam cerita tersebut. Dalam relief, penampakan tubuh tokoh-tokoh yang disebutkan dalam cerita beserta bentuk-bentuk tertentu seperti rumah, pohon, sungai, dan lain-lain merupakan petunjuk situasi dan kondisi tempat terjadinya peristiwa yang diharapkan.
Atribut lanskap pedesaan Jawa kuno mencakup lebih banyak cakupan wilayah di lingkungan pertanian atau pengelolaan lahan. Di Candi Borobudur terdapat relief tentang pertanian. Relief-relief ini terdapat pada beberapa selasar dan langkan, pada sisi timur dan pada kaki candi yang tertutup, pada sisi timur.
Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi persawahan seperti: sawah, sawah pasang surut, sawah tadah hujan, tegalan/tegalan, kebun dan hutan. Lingkungan pertanian Jawa Kuna berupa persawahan dijelaskan dalam pengelolaannya. Sawah masyarakat Jawa Kuno abad IX-X Masehi tidak hanya dikelola untuk keperluan pribadi saja, namun juga untuk keperluan menunjang bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima. Disebutnya sawah sebagai sima karena sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan pada suatu daerah.
Atribut lanskap pedesaan Jawa kuno mencakup lebih banyak cakupan wilayah di lingkungan pertanian atau pengelolaan lahan. Di Candi Borobudur terdapat relief tentang pertanian. Relief-relief ini terdapat pada beberapa selasar dan langkan, pada sisi timur dan pada kaki candi yang tertutup, pada sisi timur.
Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi persawahan seperti: sawah, sawah pasang surut, sawah tadah hujan, ladang/tegalan, kebun dan hutan. Lingkungan pertanian Jawa Kuna berupa persawahan dijelaskan dalam pengelolaannya. Sawah masyarakat Jawa Kuno abad IX-X Masehi tidak hanya dikelola untuk keperluan pribadi saja, namun juga untuk keperluan menunjang bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima. Disebutnya sawah sebagai sima karena sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan pada suatu daerah.
Secara umum sawah, sawah (ladang), rawa, dan kebun tidak beririgasi merupakan segala sesuatu yang menghasilkan sumber pangan. Penyebutan makanan pokok zaman Jawa Kuno dalam lingkungan pertanian lebih pada pengolahan nasi sebagai makanan pokok. Masyarakat Jawa Kuno abad IX-X M sudah mengenal cara pengolahan padi menjadi beras antara lain dengan cara didang, ditim, atau diliwet. Skul dinyun adalah nasi yang ditutup dalam periuk, dyun adalah periuk atau kuali (panci) besar yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk menanak sayur atau menanak nasi. Skul matiman adalah nasi yang dimasak dengan cara dikukus, sehingga dinamakan nasi tim.
Dalam pengolahan makanan dan pembuatan minuman Jawa kuno, terdapat beberapa bentuk seperti Dodol. Dodol merupakan salah satu jenis makanan yang dikenal masyarakat Jawa Kuno abad IX-X M yaitu dwa-dwal atau dodol.
Dalam pengolahan minuman pada masa itu digunakan tanaman tebu yang juga dikenal oleh masyarakat Jawa Kuno sebagai bahan dasar minuman beralkohol yang disebut tuak, siddhu. Siddhu atau sidhu merupakan minuman yang disajikan pada upacara pengukuhan sima, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Sangguran tahun 928 Masehi.
Menggambarkan rumah desa pada masa Jawa Kuna, gambar relief di sebelah kanan adalah gambaran orang-orang yang sedang sibuk membangun bangunan kayu. Ada yang membawa pasir, menaiki tangga, membawa barang, hingga memotong kayu. Berdasarkan data prasasti, orang-orang yang berprofesi membuat bangunan di antaranya, undahagi, undahagi dadap, kalang, tuha kalang.
Rumah pedesaan Borobudur termasuk dalam bentuk bangunan berupa perumahan adat dan rumah adat. Dengan kehidupan di lingkungan perumahan para pembuat gerabah seperti di Desa Nglipoh, Karanganyar. Kegiatan adat Jawa Kuno antara lain membuat gerabah atau tembikar yang dipahat pada relief Candi Borobudur. Panel relief pembuatan gerabah berada di Lorong Pagar Langkan, sisi Utara.
Catatan Sejarah Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi Budha peninggalan Kerajaan Mataram yang menguasai Pulau Jawa pada abad VIII – X Masehi). Keberadaan Borobudur diketahui dari ditemukan 2 prasasti yaitu prasasti Karang Tengah/Kayuwungunan dan prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan.
Prasasti Karang Tengah/Kayuwungunan
Prasasti Karang Tengah terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama disusun dalam bahasa Sansekerta dan bagian kedua dalam bahasa Jawa Kuna, namun prasasti bagian kedua belum lengkap, terdapat pada baris terakhir yang belum menjadi kesimpulan, karena bagian terakhir prasasti telah hilang sehingga isinya tidak banyak diketahui.
Bagian pertama yang berbahasa Sansekerta berisi informasi tentang Samaratungga, permata dinasti Sailendra, dan putrinya, Pramodawardhani, yang berjasa dalam mendirikan candi Budha ('Jinalaya'). Hari pada bulan dan angka tahun 824 M berkaitan erat dengan pendirian patung (mungkin dari perunggu, karena konon bersinar seperti bagian bulan) yang berwujud “Cri Ghananatha” di kuil yang sesuai disertai dengan bangsawan. Lebih lanjut, ada harapan bagi siapa pun yang berjasa mendirikan candi Budha (Jinamandira) dengan nama “Crimad Venuvana” (Hutan Bambu Mulia) akan mendapat pahala mencapai tataran kesepuluh, yaitu menjadi Buddha. Kesimpulannya adalah seruan kepada anak cucu untuk menyelamatkan keberlangsungan bangunan suci tersebut.
Bagian dalam bahasa Jawa Kuno dengan angka tahun 824 M memuat penetapan hibah dari Rakarah Patapan berupa sejumlah sawah sima, untuk kelangsungan bangunan suci tersebut, disertai rincian tanah dan daftar dari para saksi serta hadiah untuk para saksi tersebut. Bagian akhir prasasti telah hilang sehingga kata-kata terakhir mengenai perintah Rakai Patapan tidak banyak diketahui.
Terkait pendirian patung yang melambangkan "cri Ghananatha", menurut De Casparis, ia meyakini pendirian patung tersebut tak lain adalah patung Raja Indra dan merupakan penguburan abunya di kuil yang khusus diperuntukkan baginya, yang artinya adalah Raja Awan yaitu Indra. Raja Indra merupakan raja dari dinasti Syailendra yang menerbitkan prasasti Kelurak pada tahun 782 Masehi. Menurut De Casparis, prasasti Kayumwungan memiliki tujuan mengenang pembangunan Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut oleh Samaratungga.
Prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan
Prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan berangka tahun 842 Masehi. Prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Kahulunan yang diyakini De Casparis sebagai Pramodawardhani, putri Samaratungga yang disebutkan dalam prasasti Karang Tengah. Pramodawardhani bergelar Sri Kahulunan menurut Soekmono, Poesponegoro dan Notosusanto.
Prasasti tersebut memuat penetapan desa Tri i Tpusan menjadi sima Kamulan di Bhumisambhara, terdiri atas sawah-sawah nayaka, yaitu sawah milik para winka dan sawah milik kedua orang wadwa huma, dan disebutkan oleh Sri Kahulunan yang diperintahkan untuk menetapkan batas sima ini adalah para Darukap dan pejabat dari Kayumwungunan, Mantyasih dan Patapan, dengan upacara pendirian sima ini dihadiri oleh pejabat dari desa sekitar.
De Casparis berdasarkan Prasasti Kahulunan berpendapat bahwa Kamulan i Bhumisambhara teridentifikasi sebagai candi Borobudur, yang dianggapnya sebagai candi tempat pemujaan cikal bakal dinasti Sailendra. De Casparis, yang dilakukan Sri Kahulunan bukanlah membangun Borobudur, melainkan menghibahkan tanahnya untuk kepentingan dan kelangsungan bangunan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 842 M, Candi Borobudur didirikan.
Borobudur
Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di atas sebuah bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara adalah bukit Tidar, dan di selatan adalah pegunungan Menoreh, dan terletak di dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo di sebelah timur.
Borobudur sebagai bangunan suci merupakan candi Budha terbesar di dunia yang ada di Indonesia. Banyak ahli sejarah yang mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya Jawa kuno dan awal mula dibangunnya Borobudur, khususnya pada masa Hindu dan Budha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan beragama dan menjadi latar belakang keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Pulau Jawa pada masa itu.
Terletak Borobudur atau Barabudur, namanya berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau candi Budha, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali. Kata 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Kemudian arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.
Asal Nama Borobudur
Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang member petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore ( Boro ); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa " yang berarti "purba" maka bermakna, "Boro purba".
Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.
Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, menurut Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga sekitar tahun 824 M. Bangunan itu diselesaikan pada masa putrinya, yaitu Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan kurang lebih membutuhkan waktu setengah abad.
Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.
Nama borobudur berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur".
Kata “bara” berasal dari kata “vihara”, dalam bahasa Sanskerta berarti “candi”.
Kata “beduhur” artinya ialah "tinggi", dalam bahasa Bali yang berarti "di atas".
Sekilas Nama Borobudur
Bangunan kuno yang berasal dari periode Jawa kuno dalam sejarah Indonesia, cerita biasanya disebut chandi. Pada awalnya mereka tidak hanya menyebut nama yang meliputi bangunan candi, melainkan struktur bangunan dan hal lainnya seperti bentuk gapura dan pintu gerbang serta tempat pemandian.
Dalam penjelasan kebanyakan candi di Jawa, pada dasarnya nama aslinya tidak diketahui secara luas. Umumnya sebagian besar masyarakat yang tinggal di desa terdekat tidak yakin atau bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka sama sekali. Dari beberapa penelitian disebutkan bahwa banyak peninggalan budaya yang telah ditemukan kembali, kemungkinan bangunan suci atau candi hanya disebutkan oleh orang-orang dari desa terdekat.
Namun, beberapa dari mereka menjelaskan bahwa mereka tetap mempertahankan nama mereka, selama ini desa tersebut diberi nama setelah ditemukannya candi tersebut. Mungkin diucapkan, tetapi sulit untuk mengetahui apakah nama Chandi Borobudur diceritakan dan berasal dari desa tempat bangunan itu berada.
Dalam sejarah Jawa kuno abad ke-18, dijelaskan ada sebuah bukit bernama Borobudur. Pada saat Sir Thomas Stamford Raffles, orang yang menemukan kuil tersebut, datang ke penelitiannya. Ia menceritakan pada tahun 1814, tentang keberadaan sebuah candi atau monumen bernama Borobudur di desa Bumisegoro, oleh penduduk setempat. Borobudur, sepertinya itulah nama asli monumen tersebut. Tetapi tidak ada dokumen tertulis yang ditemukan tentang namanya.
Sebuah manuskrip Jawa kuno berangka tahun 1365 M, Nagarakrtagama yang disusun oleh Mpu Prapanca, menyebutkan kata 'Budur' namanya sebagai tempat suci bagi sekte Buddha, Vajradhara. Bukan tidak mungkin nama 'Budur' dikaitkan dengan Borobudur, namun karena tidak ada informasi lebih lanjut, hingga saat ini identifikasi yang pasti sulit dilakukan. Desa terdekat selalu berbicara 'Bore', kemungkinan menjadi bagian pertama dari nama asli monumen itu.
Padahal, banyak sarjana penjelasan De Casparis belum ada lagi solusi yang dikemukakan. Moens berpendapat bahwa, dalam analogi Bharasiwa India Selatan yang menunjukkan penganut Dewa Hindu Siva, monumennya dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dengan 'Bharabuddha' dalam bahasa Tamil, kata 'ur' berarti 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'.
Namun demikian, kata majemuk 'Boro Budur' sulit untuk dijelaskan, namun sebaliknya sebagai makna 'Budur adalah tempat suci di desa Boro' akan berbeda penafsiran dengan aturan dalam bahasa Jawa, yang mensyaratkan bahwa kata Budur Boro bukannya Boro Budur. Raffles mendapat saran tentang kata 'Budur', mungkin sesuai dengan kata Jawa kuno 'Buda', sehingga Borobudur memiliki arti 'Boro kuno'. Dia juga memberikan hipotesa lain tentang Boro berarti 'besar', dan Budur adalah 'Buddha', itu hanya disebut 'Buddha Agung'.
Padahal, 'Boro' seharusnya berarti lebih 'terhormat', yang berasal dari kata Jawa Kuno 'Bhara', sebuah awalan hororific, jadi 'tempat suci Buddhis yang dihormati' akan lebih tepat. Kata 'Boro' mungkin juga merupakan kata Jawa Kuno 'Bhara' yang berarti 'banyak', sehingga menafsirkan 'Borobudur' sebagai tempat suci 'yang banyak Buddha' memiliki klaim yang sama.
Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Poerbatjaraka. Ia mengira bahwa kata 'boro' merupakan singkatan dari kata 'vihara', yang artinya 'biara'. Borobudur kemudian berarti 'Biara Budur'. Disebutkan tentang fondasi biara yang digali kemudian selama penggalian arkeologi dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952. Karena nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi yang diberikan oleh Poerbatjaraka mungkin benar. Anggapan seperti itu berarti vihara merupakan bangunan suci.
Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. Kemudian De Casparis mencoba menelusuri kedua kata tersebut kembali ke asal mulanya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Dia menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak lain adalah Borobudur kita, dan bahwa nama tersebut perubahan sekarang terjadi melalui penyederhanaan normal apa yang terjadi dalam bahasa lisan.
Lingkungan Borobudur
Menurut cerita, dulu dikatakan bahwa Pulau Jawa terapung, melambai, dan terhuyung-huyung di lautan, harus dipaku ke pusat bumi sebelum bisa dihuni. Kisah paku besar menjadi sebuah bukit bernama Tidar yang terletak di pinggiran selatan kota Magelang sekarang ini. Monumen luar biasa Chandi Borobudur dibangun.
Menghadap hanya sekitar lima belas kilometer di sebelah selatan bukit Tidar, terletak Candi Borobudur. Daerah di sekitar 'Paku Jawa', yang lebih dikenal dengan 'Dataran Kedu', merupakan pusat geografis pulau ini. Kesuburan tanah yang ekstrim, penduduk yang sangat ramah dan rajin, telah menjelaskan mengapa kawasan ini sering disebut 'Taman Jawa'.
Chandi Borobudur tidak memiliki ruangan didalamnya, serta tidak ada tempat dimana umat Budha dapat beribadah. Kemungkinan besar bahwa bangunan itu adalah tempat ziarah, di mana umat Buddha dapat mencari suatu kebijaksanaan yang tertinggi untuk mendapatkan pencerahan. Pada lorong-lorong di sekitar bangunan, yang berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk mengelilingi ritual.
Dipandu oleh deretan relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras ke teras lain dalam kontemplasi hening. Chandi Mendut, disisi lain, tampaknya menjadi tempat untuk pemujaan. Chandi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruangan di dalamnya, akan tetapi bangunan ini tidak mengungkapkan tentang dewa apa yang mungkin menjadi objek untuk pemujaan.
Berasumsi bahwa peziarah harus melewati Chandi Pawon dalam perjalanan prosesi dari Chandi Mendut menuju Chandi Borobudur disepanjang jalur prosesi, terdapat jalan beralas batu yang mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam pusat dalam suatu perjalanan panjang. Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah yang utama di Chandi Mendut, dan Chandi Pawon merupakan tempat untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum pada akhirnya melanjutkan perjalanan ziarah ke Chandi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
Menurut cerita, dulu dikatakan bahwa Pulau Jawa terapung, melambai, dan terhuyung-huyung di lautan, harus dipaku ke pusat bumi sebelum bisa dihuni. Kisah paku besar menjadi sebuah bukit bernama Tidar yang terletak di pinggiran selatan kota Magelang sekarang ini. Monumen luar biasa Chandi Borobudur dibangun.
Menghadap hanya sekitar lima belas kilometer di sebelah selatan bukit Tidar, terletak Candi Borobudur. Daerah di sekitar 'Paku Jawa', yang lebih dikenal dengan 'Dataran Kedu', merupakan pusat geografis pulau ini. Kesuburan tanah yang ekstrim, penduduk yang sangat ramah dan rajin, telah menjelaskan mengapa kawasan ini sering disebut 'Taman Jawa'.
Chandi Borobudur tidak memiliki ruangan didalamnya, serta tidak ada tempat dimana umat Budha dapat beribadah. Kemungkinan besar bahwa bangunan itu adalah tempat ziarah, di mana umat Buddha dapat mencari suatu kebijaksanaan yang tertinggi untuk mendapatkan pencerahan. Pada lorong-lorong di sekitar bangunan, yang berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk mengelilingi ritual.
Dipandu oleh deretan relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras ke teras lain dalam kontemplasi hening. Chandi Mendut, disisi lain, tampaknya menjadi tempat untuk pemujaan. Chandi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruangan di dalamnya, akan tetapi bangunan ini tidak mengungkapkan tentang dewa apa yang mungkin menjadi objek untuk pemujaan.
Berasumsi bahwa peziarah harus melewati Chandi Pawon dalam perjalanan prosesi dari Chandi Mendut menuju Chandi Borobudur disepanjang jalur prosesi, terdapat jalan beralas batu yang mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam pusat dalam suatu perjalanan panjang. Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah yang utama di Chandi Mendut, dan Chandi Pawon merupakan tempat untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum pada akhirnya melanjutkan perjalanan ziarah ke Chandi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.

Ilustrasi Danau Borobudur, genangan air disebelah barat laut.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
| Ilustrasi Danau Borobudur, genangan air disebelah barat laut. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. |
Danau Borobudur
Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m diatas permukaan laut dan 15 m di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20, dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia mengemukakan bahwa Chandi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk dan denah monumen menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit, sehingga menunjukkan bentuk teratai mengambang di udara.
Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. Seringkali digenggam oleh Bodhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa.
Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda namun terangkai dalam menggambarkan jalan menuju kebuddhaan, pencerahan, dan pembebasan samsara.
Arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai.Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.
Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana, yaitu aliran Buddha yang menyebar ke Asia Timur. Tiga pelataran melingkar yang ada di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai.
Dalam hal ini teori Nieuwenkamp terdengar begitu luar biasa dan fantastis, tetapi banyak menuai bantahan dari para arkeolog. Pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa daerah kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau kuno.
Sementara itu pakar geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp.
Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m diatas permukaan laut dan 15 m di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20, dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia mengemukakan bahwa Chandi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk dan denah monumen menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit, sehingga menunjukkan bentuk teratai mengambang di udara.
Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. Seringkali digenggam oleh Bodhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa.
Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda namun terangkai dalam menggambarkan jalan menuju kebuddhaan, pencerahan, dan pembebasan samsara.
![]() |
Arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana, yaitu aliran Buddha yang menyebar ke Asia Timur. Tiga pelataran melingkar yang ada di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai.
Dalam hal ini teori Nieuwenkamp terdengar begitu luar biasa dan fantastis, tetapi banyak menuai bantahan dari para arkeolog. Pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa daerah kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau kuno.
Sementara itu pakar geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp.
Penemuan Borobudur
Bayangkan pertanyaannya, adakah informasi untuk mengetahui alasan masyarakat meninggalkan Candi Borobudur dan kapan bangunan tersebut tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah. Namun dalam hal ini belum diketahui secara pasti berapa lama tidak digunakan lagi sebagai tempat suci umat Buddha. Borobudur terbengkalai dan terkubur di bawah lapisan tanah dan abu vulkanik, sehingga saat itu bangunan Candi Borobudur berada di dalam bukit. Alasan sebenarnya ditinggalkannya masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat keagamaan umat Buddha.
Menengok sejarah keberadaan Chandi Borobudur, bangunan tersebut sempat terbengkalai dan tertutup abu vulkanik mulai sekitar tahun 929-1006 M, pada masa pemerintahan Rakai Sumba, hal ini disebabkan oleh beberapa aktivitas letusan dan bencana alam gempa bumi dari beberapa gunung berapi. Borobudur diduga terkubur abu vulkanik sehingga terlupakan dan menyebabkan pusat pemerintahan kerajaan saat itu berpindah ke Jawa Timur.
Tidak diketahui kapan Borobudur Chandi ditinggalkan dan terkubur di sebuah bukit dan tertutup abu vulkanik. Menurut Soekmono, ia menjelaskan pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi, masyarakat Mataram yang beragama Hindu mengalami berbagai kesulitan. Kekuasaan Sanjaya dan Syailendra di Jawa Tengah membangun bangunan suci keagamaan yang besar dan megah, namun melemahkan tenaga dan pendapatan rakyat, karena mengutamakan kebesaran raja telah menekan hidup rakyat.
Perpindahan pusat kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur mengakibatkan bangunan pemujaan seperti Candi Borobudur tidak lagi digunakan karena ditinggalkan penganutnya. Keberadaan Borobudur hilang dan tidak tercatat dalam sejarah selama hampir 800 tahun hingga akhirnya ditemukan kembali.
Menurut penuturan sejarah Jawa kuno, pada kurun waktu antara tahun 928 hingga tahun 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Medang ke wilayah Jawa Timur setelah beberapa kali terjadi letusan gunung berapi, namun beberapa sumber menduga kemungkinan besar Borobudur mulai ditinggalkan selama periode ini.
Sebuah langkah maju dari anggapan umum adalah Chandi Borobudur, yang tidak lagi digunakan karena masyarakat telah berpindah latar belakang ke Islam pada abad ke-15. Namun tidak menutup kemungkinan sebagian besar monumen di Jawa Tengah telah ditinggalkan sejak abad ke-10 ketika kerajaan di Jawa Tengah memindahkan wilayahnya ke Jawa Timur.
Penjelasan tersebut dikemukakan para arkeolog tentang monumen Chandi Borobudur peninggalan umat Buddha, dan tentang bangunan suci yang terkubur di atas bukit. Hal ini terkait dengan sejarah ketika pusat kerajaan dari Jawa Tengah berpindah ke Jawa Timur. Mengenai letak Kerajaan Mataram di Jawa Tengah, hal ini dimungkinkan karena terletak di tengah-tengah pegunungan vulkanik berikut ini, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Gunung Merapi masih aktif dan aktivitas vulkanik berdampak serius. Letusan gunung berapi, kegiatan ini menimbulkan dampak serius yang mempengaruhi kehidupan masyarakat pada saat itu.
Sejarah menyebutkan dampak letusan terjadi di situs Liangan. Situs Liangan merupakan situs pemukiman pada masa Mataram Kuno. Situs Liangan sudah tidak berpenghuni lagi, kawasan tersebut terbengkalai akibat letusan gunung berapi. Bukan dari Gunung Merapi yang masih aktif, namun akibat letusan yang terjadi, situs Liangan telah tertimbun material abu vulkanik letusan Gunung Sindoro. Selama penelitian dan penggalian, situs ini ditemukan pada tahun 2008, terkubur abu vulkanik setebal 9 meter.
Bangunan-bangunan tersebut dibiarkan begitu saja selama beberapa abad, terlepas dari kapan tepatnya bangunan tersebut kehilangan maknanya dalam masyarakat. Keberadaan Candi Borobudur menghilang tidak tercatat dalam sejarah selama hampir 800 tahun sampai akhirnya ditemukan kembali, bagaimanapun juga bangunan tersebut tidak pernah sepenuhnya hilang dari ingatan orang. Karena masyarakat berbicara tentang kepercayaan tradisional takhayul, maka reruntuhan bangunan dikaitkan dengan nasib buruk dan kesengsaraan.
Borobudur terbengkalai selama kurang lebih 800 tahun dan tertimbun lapisan tanah dan abu vulkanik, sehingga saat itu Borobudur berada di dalam bukit. Alasan sebenarnya bangunan ini terlantar dan ditinggalkan masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan ini tidak lagi menjadi pusat keagamaan penganut agama Buddha.
Menurut narasi sejarah Jawa kuno, dalam kurun waktu antara tahun 928 hingga 1006, Raja Mpu Sindok telah memindahkan pusat kerajaan Medang ke wilayah Jawa Timur setelah terjadi beberapa kali letusan gunung berapi, meski demikian beberapa sumber menduga bahwa kemungkinan besar Borobudur mulai ditinggalkan pada masa ini.
Borobudur mulai disebut-sebut sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Nagarakretagama, yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yang menyebutkan adanya "Candi di Budur". Selain itu, Soekmono (1976) juga mengatakan bahwa candi ini benar-benar ditinggalkan sejak penduduk setempat masuk Islam pada abad ke-15. Candi Borobudur melalui cerita rakyat sebagai bukti kejayaan masa lalu menjadi cerita takhayul yang dikaitkan dengan kemalangan dan penderitaan.
Dua buku Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan cerita nasib buruk, tentang Borobudur. Menurut Babad Tanah Jawi, menjelaskan nasib buruk yang terjadi pada tahun 1709. Dalam Babad Mataram, kemalangan terjadi pada tahun 1757.
Pada kurun 1811 hingga 1816, Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Ia mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa.
Pada kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena berhalangan dan tugasnya, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini.
Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur, Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen yang pernah hilang.
Hartmann seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca buddha besar didalam stupa utama.
Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong. Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang dirampungkannya pada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama.
Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian. Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.
Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata bagi sebagian besar kolektor barang antik. Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak hilang. Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala.
Pada tahun 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen. Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk menggelar penyelidikan menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.
Dalam tahun 1882 muncul usulan untuk membongkar seluruh bangunan candi dan memindahkan reliefnya ke museum mengingat keadaan candi sudah terlalu rusak dan sangat mengkhawatirkan. Usulan ini tidak mendapat sambutan langsung tetapi menimbulkan pemikiran tentang upaya menyelamatkan candi dari bahaya runtuh atau musnah.
Penemuan lain yang sangat penting pada tahun 1885, ketika J.W. Ijzerman mengadakan penyelidikan dan melakukan penggalian terkait dengan keberadaan candi. Dalam penyelidikan tersebut IJzerman menemukan relief di belakang batur kaki candi yang terdapat di ke-empat sisi candi yang sering disebut dengan Hidden Foot. Batur kaki candi ini dibongkar sebagian kecil untuk keperluan pemotretan kemudian ditutup kembali. Sebagian relief di belakang batur kaki candi ini tidak ditutup atau ditampakkan sebagian di sudut tenggara sepanjang dua panil menghadap ke selatan.
Dalam tahun 1900 terbentuklah panitia yang bertugas khusus untuk melakukan perencanaan penyelamatan candi Borobudur. Setelah dua tahun bekerja, di dapat kesimpulan perlu dilakukan penyelamatan Candi Borobudur. Pada tahun 1905, rencana untuk penyelamatan candi dilakukan dengan pemugaran candi Borobudur, yang dipimpin oleh Theodore Van Erp. Pemugaran dilaksanakan pada tahun 1907 – 1911.
Chandi Borobudur terletak tepat di atas sebuah bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Melihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang terletak di sebelah timur.
Wisata dan kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Candi Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, yang merupakan bentuk apresiasi belajar dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur Indonesia. Pada kesempatan menyenangkan kali ini kami mengupas beberapa sumber narasi dalam wisata tematik tentang sejarah Borobudur.
Gambar Candi Borobudur

Relief Cerita dinding kaki candi Borobudur
Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding Kaki Candi Tersembunyi Borobudur sudut tenggara (Hidden Foot). Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Teras-teras lingkaran Arupadhatu
Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur denah dasarnya berbentuk Mandala.
Borobudur Mandala, merupakan lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Dataran tinggi Borobudur beberapa meter lebih tinggi dari dataran di sekitarnya, puncak bukitnya menjulang paling tinggi di atas dataran tinggi tersebut. Letaknya di atas bukit yang dibangun. Ketinggian puncak bukit tidak cukup untuk membentuk inti struktur. Teknik bangunan yang digunakan dalam pembangunan candi Borobudur di atas batu. Materialnya tidak dikumpulkan dari tambang, melainkan diambil dari sungai tetangga. Batu-batu tersebut dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, diangkut ke lokasi, dan ditempatkan tanpa mortar.
Struktur bangunan dapat dibagi menjadi tiga bagian: alas (kaki), badan, dan atas. Basisnya berukuran 123×123 m (403,5×403,5 kaki) dengan tinggi 4 meter (13 kaki). Tubuh candi terdiri atas lima teras berbentuk bujur sangkar yang semakin mengecil di bagian atasnya. Teras pertama terletak 7 meter (23 kaki) dari ujung dasar teras. Setiap teras berikutnya dibuat mundur 2 meter (6,6 kaki), menyisakan lorong sempit di setiap tingkat.

Struktur tiga bagian Borobudur
Struktur tiga bagian menjelaskan bagian dasar (kaki), tubuh, dan puncak candi Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Gapura Kala-Makara Borobudur
Salah satu Tangga Borobudur yang mendaki melalui gapura berbentuk ukiran Kala-Makara Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Chandi Borobudur terletak tepat di atas sebuah bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Melihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang terletak di sebelah timur.
Wisata dan kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Candi Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, yang merupakan bentuk apresiasi belajar dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur Indonesia. Pada kesempatan menyenangkan kali ini kami mengupas beberapa sumber narasi dalam wisata tematik tentang sejarah Borobudur.
Gambar Candi Borobudur
Relief Cerita dinding kaki candi Borobudur Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding Kaki Candi Tersembunyi Borobudur sudut tenggara (Hidden Foot). Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Teras-teras lingkaran Arupadhatu Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Chandi Borobudur denah dasarnya berbentuk Mandala. Borobudur Mandala, merupakan lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Dataran tinggi Borobudur beberapa meter lebih tinggi dari dataran di sekitarnya, puncak bukitnya menjulang paling tinggi di atas dataran tinggi tersebut. Letaknya di atas bukit yang dibangun. Ketinggian puncak bukit tidak cukup untuk membentuk inti struktur. Teknik bangunan yang digunakan dalam pembangunan candi Borobudur di atas batu. Materialnya tidak dikumpulkan dari tambang, melainkan diambil dari sungai tetangga. Batu-batu tersebut dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, diangkut ke lokasi, dan ditempatkan tanpa mortar.
Struktur bangunan dapat dibagi menjadi tiga bagian: alas (kaki), badan, dan atas. Basisnya berukuran 123×123 m (403,5×403,5 kaki) dengan tinggi 4 meter (13 kaki). Tubuh candi terdiri atas lima teras berbentuk bujur sangkar yang semakin mengecil di bagian atasnya. Teras pertama terletak 7 meter (23 kaki) dari ujung dasar teras. Setiap teras berikutnya dibuat mundur 2 meter (6,6 kaki), menyisakan lorong sempit di setiap tingkat.
Struktur tiga bagian Borobudur Struktur tiga bagian menjelaskan bagian dasar (kaki), tubuh, dan puncak candi Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
![]() |
Gapura Kala-Makara Borobudur Salah satu Tangga Borobudur yang mendaki melalui gapura berbentuk ukiran Kala-Makara Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Borobudur
Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di atas sebuah bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara adalah bukit Tidar, dan di selatan adalah pegunungan Menoreh, dan terletak di dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo di sebelah timur.
Terletak Borobudur atau Barabudur, namanya berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau pura umat Buddha, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali. kata 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Kemudian arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Lorong dinding dengan ukiran relif.Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
![]() |
Lorong dinding dengan ukiran relif. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Stupa BorobudurStupa pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan relik Buddha di Chandi Borobudur. Stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan.

Stuktur candi Borobudur dibagi dalam tiga bagian sesuai dengan tingkatan (datu), penjelasan menurut Stutterheim. Struktur candi 10 tingkatan sesuai dengan naskah dasabhumi-sutra untuk mencapai kebudhaan harus melalui 10 tingkatan, menurut de casparis. Sebagai mandala, yang nyata (garbhadatu) dan yang ideal (vajradhatu), menurut Marsis sutopo, ed, 2011, kearitekturan candi Borobudur, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Borobudur StupaYang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.
Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.
Wisata dan kunjungan dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektural, yang merupakan bentuk apresiasi dan ikut serta dalam mengenal, menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur, yang ada di Indonesia. Menjelajahi sejarah dan arti makna tentang adanya danau Borobudur.
Stupa Borobudur
Stupa pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan relik Buddha di Chandi Borobudur. Stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan.
Stuktur candi Borobudur dibagi dalam tiga bagian sesuai dengan tingkatan (datu), penjelasan menurut Stutterheim. Struktur candi 10 tingkatan sesuai dengan naskah dasabhumi-sutra untuk mencapai kebudhaan harus melalui 10 tingkatan, menurut de casparis. Sebagai mandala, yang nyata (garbhadatu) dan yang ideal (vajradhatu), menurut Marsis sutopo, ed, 2011, kearitekturan candi Borobudur, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Borobudur Stupa
Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.
Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.
Wisata dan kunjungan dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektural, yang merupakan bentuk apresiasi dan ikut serta dalam mengenal, menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur, yang ada di Indonesia. Menjelajahi sejarah dan arti makna tentang adanya danau Borobudur.

Teras stupa Borobudur
Salah satu teras Borobudur dengan deretan stupa dan pemandangan bukit Menoreh disebelah selatan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Teras stupa Borobudur Salah satu teras Borobudur dengan deretan stupa dan pemandangan bukit Menoreh disebelah selatan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Dalam narasi sejarah Borobudur disebutkan ukiran panil relif yang terpahat pada dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki yang disebut dengan 'Upanat' kepada Brahmana.
Upanat BorobudurSalah satu relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Menjelaskan bahwa 'Upanat' merupakan alas kaki yang digunakan pada saat mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Dalam narasi sejarah Borobudur disebutkan ukiran panil relif yang terpahat pada dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki yang disebut dengan 'Upanat' kepada Brahmana.
Upanat Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Menjelaskan bahwa 'Upanat' merupakan alas kaki yang digunakan pada saat mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.










Comments
Post a Comment